Nahnutv.com. Yogyakarta – Kepolisian Yogyakarta kini memburu pelaku utama yang diduga melakukan penusukan kepada seorang santri Krapyak di Jalan Parangtritis, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta.
Dua santri menjadi korban dimana satu diantaranya mengalami luka akibat penganiayaan dan satunya lagi mengalami luka akibat ditusuk oleh salah satu pelaku.
“Pelaku yang menusuk korban masih kami kejar. Itu yang sudah kami amankan mereka yang penganiayaan.
“Jadi ada dua peristiwa, penganiayaan sekaligus penusukan,” kata Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Probo Satrio, saat dikonfirmasi, Senin (28/10/2024).
Probo menuturkan awal mula penyelidikan terdapat 25 orang yang diperiksa dan diduga berada saat kejadian itu. Akan tetapi tidak semuanya melakukan penganiayaan dan penusukan terhadap korban.

“Tidak semuanya, hanya beberapa dan ini sudah kami amankan. Tinggal dua orang yang masih kejar,” ungkapnya.
Dua orang tersebut menurut Probo satu di antaranya yang melakukan penusukan terhadap korban.
“Iya, yang menusuk sama satunya yang menganiaya,” terang Probo.
Upaya penyelidikan masih terus dilakukan guna mengungkap fakta yang sebenarnya peristiwa penganiayaan dan penusukan dua orang santri Ponpes Putra Fatimiyah Al Munawwir Krapyak.
“Dua orang ini jika sudah kami amankan mudah-mudahan akan membuka semua.
“Termasuk motif dan pemicu keributan di kafe itu,” terang dia.
Perburuan Pelaku
Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Aditya Surya Dharma, menyampaikan pihak kepolisian akan menindak tegas aksi kejahatan. Ia mengatakan tiga orang pelaku telah diamankan pada Jumat (25/10/2024) malam. Mereka yakni T, Y dan J yang kini telah diperiksa penyidik Satreskrim Polresta Yogyakarta.
Dengan demikian total sudah ada lima terduga pelaku yang telah diamankan Polisi, sebab dua di antaranya telah diamankan lebih dulu pasca kejadian.
“Tiga pelaku (penganiayaan santri) memang sudah kami amankan. Jelasnya menunggu rilis,” katanya.
Aditya menegaskan pihak kepolisian sangat serius dalam menangani kasus penganiayaan ini. Ia menyampaikan masih ada beberapa pelaku yang kini dalam pengejaran aparat kepolisian.
“Kami dari kepolisian sangat serius dalam menangani kasus ini, masih ada beberapa pelaku yang kami kejar. Tidak ada pelaku kekerasan yang tidak kami tindak tegas,” pungkasnya.
Kata Pengasuh Pondok
Pengasuh Pondok Pesantren Putra Anak (PPPA) Fatimiyah Al Munawwir Krapyak, Hj Ida Fatimah Zainal buka suara terkait penganiayaan dan penusukan terhadap dua santrinya, pada Rabu (23/10/2024) di Jalan Parangtritis, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta.
Sosok yang akrab disapa Bu Nyai Ida ini membenarkan jika kedua korban yakni S (19) Islam, Pelajar, warga Rembang, Jateng. Serta MA (23) warga Pati, Jateng merupakan santri PPPA Fatimiyah Al Munnawir.
“Betul, mereka (korban) santri kami. Upaya hukum sudah kami serahkan ke pengasuhnya KH R Haidar Muhaimin,” katanya, saat dihubungi, Kamis (24/10/2024).
Pihak PPPA Fatimiyah Al Munawwir mengecam aksi penganiayaan dan penusukan tersebut. Mereka berharap aparat kepolisian dan pemerintah segera melakukan tindakan tegas terhadap pelaku.
“Mohon Polisi dan pemerintah segera menangani. Ini permasalahan (penganiayaan) sangat meresahkan,” ungkapnya.
Ida Fatimah mengklaim pelaku penusukan terhadap dua santrinya sudah jelas. Ida juga menegaskan bahwa kedua korban tidak mengenal sama sekali dengan para pelaku. Waktu itu kedua santrinya membeli sate di Jalan Parangtritis. Namun entah mengapa mereka tiba-tiba diserang oleh rombongan pelaku.
“Tidak ada kaitan apa-apa, mereka berdua jajan, makan sate lalu ada insiden tersebut, santri kami tidak tahu menahu,” tegas Ida.
Pengakuan Korban
AM (23), memberikan pernyataan terkait kejadian yang menimpanya. “Saya sama temen saya, S (20), jadi korban,” kata AM kepada awak media, di RS Pratama Yogyakarta, Kamis (24/10/2024).
Ia mengalami luka pada bagian kepala dan patah tulang pada bagian tangan kiri, akibat kejadian yang berlangsung pada Rabu (23/10/2024) malam itu.
AM mengaku, sebelum kejadian berlangsung, ia bersama rekannya sedang menyantap sate ayam di warung yang menjadi lokasi kejadian. Setelah menyantap makanan itu, mereka memilih bersantai sejenak dan tidak langsung pulang ke Pondok Pesantren Al Munawwir.
Namun, nahas. Tiba-tiba segerombolan orang tak dikenal datang dan mengatakan “ini-ini-ini” sambil menunjuk AM dan S. Kemudian orang-orang tak dikenal itu menyerang mereka berdua.
“Kan enggak tahu apa-apa, kita. Enggak langsung lari juga. Kita cuma bisa bilang enggak tahu apa-apa, enggak tahu apa-apa, tetapi tetap aja diserang,” ujar dia.
Lanjutnya, setelah menunjuk mereka berdua, gerombolan orang tak dikenal itu langsung memukul. Tidak pemukulan yang dilakukan ada yang menggunakan helm, kayu, dan sejumlah benda di lokasi kejadian.
“Mereka ambil kursi langsung dihantam (ke AM dan S). terus ada yang ambil helm, kayu, dan benda-benda yang ada di sana terus dihantam ke saya,” ungkap dia.
AM sendiri sempat jatuh dan berdiri, namun lagi-lagi dihantam oleh orang-orang tak dikenal tersebut.
“(AM) enggak sempat melawan soalnya, enggak salah kan. Saya cuma mencari kebenaran,” ujar AM.
Secara pribadi, AM mengaku tidak mengenali orang-orang yang melakukan penyerangan tersebut. Bahkan, dia tidak pernah merasa melihat para pelaku penyerangan. AM pun tidak bisa menghitung secara pasti jumlah pelaku penyerangan tersebut. Namun, dipastikan bahwa jumlah pelaku itu ada lebih dari lima orang.
“Jumlah mereka tadi pagi aku baca berita, ada yang 25 orang, ada yang 15 orang. Tapi, saya enggak tahu kebenarannya berapa. Saya enggak hitung,” ucapnya.
Setelah mendapatkan pukulan, AM tidak mengetahui ke mana arah pergi para pelaku pengeroyokan. Lalu, salah satu warga setempat ada yang langsung menarik AM agar lari dan menjauhi lokasi kejadian.
“Jadi langsung lari aja sebisaku. Yaudah gitu. Minta bantuan warga,” jelasnya.
AM sempat lari dan mendapatkan bantuan dari orang untuk dihantarkan menggunakan sepeda motor kembali ke Pondok Pesantren Al Munawwir.
“Nah pas aku lari ya pikiran ku di temen ini, gimana nasibnya. Ternyata kena tusuk dibagian perut kiri. Jadi enggak bisa lari dan aku enggak tahu sama sekali (keadaan temannya),” paparnya.
Setelah sampai di Pondok Pesantren Al Munawwir, AM langsung memberitahu rekan lainnya dan meminta rekan lainnya untuk ke lokasi kejadian.
“Ternyata (temannya yakni S) sudah di sini (RS Pratama Yogyakarta). Terus temen ku (teman yang disuruh AM melihat lokasi kejadian) nelefon dan aku disuruh ke sini (RS Pratama Yogyakarta) juga biar sama-sama diobati,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, polisi masih memburu pelaku penusukan seorang santri yang tengah membeli sate di Jalan Parangtritis, Kemantren/Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta. Berdasar hasil penyelidikan sementara, korban tidak saling kenal dengan para pelaku. Rombongan pelaku yang berjumlah sekitar 25 orang tiba-tiba membuat onar lalu melempar gelas ke jalan. (Nahnutv.com/Rdp)