Nahdliyin

Mengenal Gus Firjaun: Ulama Pesantren yang Dekat dengan Rakyat dan Dikenal Sederhana

R444UL Diterbitkan 18:27 5 menit membaca
Ukuran Teks:

Nahnutv.com JEMBER — Nama KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman atau yang akrab disapa Gus Firjaun kembali menjadi perhatian publik Nahdlatul Ulama. Setelah Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU, Gus Firjaun mendapat amanah menjalankan tugas-tugas harian PWNU Jawa Timur.

Di balik amanah tersebut, Gus Firjaun dikenal sebagai sosok yang memiliki latar belakang pesantren kuat, pengalaman organisasi, politik, sekaligus kedekatan dengan masyarakat. Sejumlah kisah tentang perjalanan hidupnya juga menggambarkan sosok ulama yang tidak berjarak dengan kehidupan rakyat.

Berikut sembilan fakta tentang Gus Firjaun yang menarik untuk disimak.

1. Pengasuh Pesantren dan Aktif di Lembaga Bahtsul Masail

Gus Firjaun merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiq Putra (Astra), Jember. Selain mengasuh pesantren, ia juga dikenal aktif dalam tradisi intelektual pesantren melalui Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Timur.

Keterlibatannya dalam forum Bahtsul Masail menunjukkan kedekatannya dengan tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan kajian fikih, diskusi keagamaan, serta pencarian solusi atas persoalan-persoalan aktual di tengah masyarakat.

Sebelum itu, Gus Firjaun juga pernah dipercaya sebagai Ketua Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Jawa Timur.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama.

2. Dikenal sebagai Ulama yang Ramah dan Karismatik

Bagi orang-orang yang mengenalnya sejak muda, Gus Firjaun bukan sosok yang sulit didekati.

Ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, tenang, sederhana, dan dekat dengan masyarakat. Karakter tersebut membuat Gus Firjaun mudah diterima di berbagai lingkungan, baik pesantren, organisasi maupun masyarakat umum.

Ketenangan dalam bersikap juga menjadi salah satu karakter yang melekat pada dirinya.

3. Putra KH Achmad Siddiq

Gus Firjaun merupakan putra KH Achmad Siddiq, ulama besar Nahdlatul Ulama yang pernah dipercaya sebagai Rais Aam PBNU.

KH Achmad Siddiq dikenal sebagai salah satu ulama penting dalam sejarah NU dan kehidupan kebangsaan Indonesia. Pemikirannya mengenai hubungan antara Islam, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia turut memberi warna penting dalam perjalanan NU dan bangsa.

Latar belakang keluarga tersebut membuat Gus Firjaun tumbuh dalam lingkungan keulamaan dan tradisi pesantren yang kuat.

Namun, warisan terbesar yang diterimanya bukan semata nama besar keluarga, melainkan nilai-nilai keilmuan, kesederhanaan dan pengabdian yang ditanamkan melalui kehidupan pesantren.

4. Tumbuh dalam Tradisi Keulamaan NU

Gus Firjaun merupakan bagian dari keluarga besar ulama NU. Lingkungan tersebut membentuk perjalanan hidupnya sejak usia muda.

Ia tidak hanya berada dalam lingkungan pesantren sebagai tempat belajar, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas keagamaan dan organisasi.

Tradisi keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian yang terus melekat dalam perjalanan Gus Firjaun hingga saat ini.

5. Memiliki Nasab yang Tersambung kepada Rasulullah SAW

Dalam profil yang beredar, Gus Firjaun disebut memiliki nasab yang tersambung kepada Rasulullah SAW atau dzurriyah Rasul.

Nasab tersebut menjadi bagian dari latar belakang keluarga dan sejarah pesantren yang membentuk kehidupannya.

Bagi kalangan pesantren, nasab tentu bukan sekadar garis keturunan. Nilai yang lebih penting adalah bagaimana warisan keilmuan, akhlak dan tradisi pengabdian tersebut diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.

6. Dikenal Gemar Bersedekah

Salah satu cerita yang menonjol mengenai Gus Firjaun adalah kebiasaannya dalam bersedekah dan membantu masyarakat.

Ia dikenal sebagai sosok yang senang berbagi. Bahkan, sejumlah kisah tentang kedermawanannya disebut telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.

Kedermawanan tersebut menjadi salah satu sisi lain dari kepribadian Gus Firjaun yang tidak selalu terlihat dari aktivitas formalnya sebagai ulama maupun pejabat publik.

7. Pernah Bekerja sebagai Tukang Kayu

Di balik latar belakangnya sebagai putra ulama besar, perjalanan hidup Gus Firjaun juga tidak selalu berada dalam lingkungan elite pesantren.

Ia disebut pernah menjalani pekerjaan sebagai tukang kayu, termasuk memikul kayu.

Kisah tersebut memperlihatkan pengalaman hidup yang bersentuhan langsung dengan dunia kerja masyarakat kecil. Pengalaman semacam ini ikut membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan dan masyarakat.

8. Pernah Menjadi Tukang Becak

Tidak banyak orang mengetahui bahwa Gus Firjaun juga pernah mengalami kehidupan sebagai tukang becak.

Kisah tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan hidupnya. Dari pengalaman tersebut, Gus Firjaun pernah merasakan secara langsung bagaimana menjalani pekerjaan dengan mengandalkan tenaga dan keringat sendiri.

Pengalaman hidup di lapisan masyarakat bawah itu membuat sosok Gus Firjaun dikenal tidak berjarak dengan rakyat.

9. Sederhana dan Dekat dengan Masyarakat

Dari berbagai kisah yang berkembang tentang dirinya, satu karakter yang paling kuat adalah kesederhanaan.

Gus Firjaun dikenal sebagai sosok yang tidak menjaga jarak dengan masyarakat. Latar belakang keluarga ulama, pengalaman di pesantren, organisasi, hingga dunia politik tidak membuatnya kehilangan karakter sederhana yang telah melekat sejak muda.

Kedekatan tersebut pula yang membuat Gus Firjaun dapat berinteraksi dengan berbagai kalangan.

Bagi orang-orang yang telah mengenalnya sejak lama, perjalanan Gus Firjaun dari lingkungan pesantren, dunia organisasi dan politik hingga kini mendapat amanah di PWNU Jawa Timur tidak banyak mengubah karakter dasarnya.

Dari Pesantren, Politik, hingga Khidmah NU

Perjalanan Gus Firjaun memang cukup panjang. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren, aktif dalam forum keilmuan, kemudian memasuki dunia politik dan pemerintahan. Ia pernah menjadi anggota DPR dan Wakil Bupati Jember periode 2021–2025.

Namun, dunia politik tidak menghapus identitas kepesantrenannya.

Kini, ketika mendapat amanah menjalankan tugas harian PWNU Jawa Timur, pengalaman panjang tersebut kembali menemukan ruang pengabdian baru.

Bagi Gus Firjaun, amanah organisasi bukan sekadar posisi struktural. Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan roda organisasi, merawat tradisi ke-NU-an, sekaligus memastikan khidmah kepada umat dan masyarakat terus berjalan.

Sosok yang pernah merasakan kehidupan sebagai santri, tukang kayu hingga tukang becak itu kini berada pada posisi penting dalam organisasi NU Jawa Timur.

Dari pesantren untuk umat, dari pengalaman hidup bersama rakyat untuk khidmah yang lebih luas. Sosok Gus Firjaun menunjukkan bahwa kebesaran seorang ulama tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban, tetapi juga dari seberapa dekat ia dengan masyarakat dan seberapa kuat ia menjaga nilai kesederhanaan dalam perjalanan pengabdiannya. (baba)

Pimpinan Redaksi

R444UL

Divisi Redaksi Nahnu TV
Artikel Lainnya

Jurnalis di Divisi Redaksi dengan spesialisasi dalam peliputan investigatif dan penulisan berita mendalam. Berfokus pada penggalian isu aktual, wawancara narasumber kunci, dan penyajian laporan lapangan yang tajam, akurat, serta objektif untuk publik.

Tinggalkan komentar