Jombang, Nahnu TV — Forum Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama mencatatkan pijakan sejarah baru dalam penataan jam’iyyah menuju abad kedua keberlangsungannya. Sidang Pleno III yang berlangsung di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026), resmi mengesahkan Peta Jalan “NU Digdaya 2050” hasil rumusan Sidang Komisi Program.
Dokumen strategis ini dirancang sebagai panduan jangka panjang untuk mentransformasi NU menjadi organisasi yang kohesif, mandiri, bermartabat, serta berdaya jangkau luas dalam melayani umat dan menjaga peradaban.
Peta Jalan Strategis Abad Kedua
Pimpinan Sidang Komisi Program Muktamar Ke-35 NU, Alissa Wahid, menyampaikan bahwa penyusunan peta jalan ini merupakan mandat langsung dari Muktamar Ke-34 NU. Kehadiran roadmap ini menjadi sarana penting agar konsolidasi sumber daya manusia (SDM) Nahdliyin dapat terarah secara optimal.
“Peta jalan ini adalah amanah Muktamar ke-34 NU, mengingat NU memasuki abad keduanya. Peta jalan ini akan menjadi panduan agar NU menjadi jam’iyyah yang digdaya, yang mampu mengoptimalkan SDM-nya ke arah yang tepat,” ujar Alissa.
Tiga Lapis Tahapan Khidmah
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, perumusan peta jalan dibagi ke dalam tiga lapis kerja berjenjang yang harus dibangun secara terstruktur mulai dari akar rumput (grassroots):
- Landasan Transformasi. Pekerjaan dasar berfokus pada penguatan jati diri dan ideologi Nahdliyin, perbaikan tata kelola organisasi (good governance), penguatan sistem kaderisasi yang berjenjang, serta percepatan transformasi digital di seluruh tingkatan tingkatan kepengurusan.
- Pilar Kemaslahatan. Lapis kedua berorientasi pada aksi nyata kemasyarakatan yang mencakup empat bidang utama: pengembangan pesantren dan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), peningkatan kualitas SDM NU, pemberdayaan ekonomi warga, serta pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan.
- Khidmah Peradaban. Puncak dari implementasi peta jalan ini adalah kontribusi aktif NU dalam menghadirkan kemaslahatan bagi kemajuan bangsa serta perdamaian peradaban dunia.
Penguatan Ideologi Aswaja dan Pendampingan Wilayah 3T
Alissa menekankan bahwa keberhasilan visi “NU Digdaya 2050” sangat bergantung pada kekokohan nilai-nilai dasar organisasi. Penguatan doktrin dan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah menjadi pondasi utama yang tidak boleh terabaikan oleh seluruh pengurus maupun warga Nahdliyin.
“Perlu diingat bahwa visi digdaya itu tidak akan tercapai jika kita lalai pada penguatan jati diri NU. Sangat dibutuhkan kerja keras untuk menguatkan ideologi Aswaja An-Nahdliyyah di tiap warga NU termasuk pengurus,” tegas Putri Gus Dur tersebut.
Selain itu, ia menyuarakan aspirasi para muktamirin yang mendorong Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk memberikan pendampingan organisasi yang lebih terstruktur dan intensif, khususnya bagi kepengurusan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pendampingan ini dinilai vital agar penataan struktur dan pembinaan jamaah di seluruh penjuru Nusantara dapat berjalan beriringan tanpa ketimpangan.