Nahdliyin

LESBUMI PWNU DIY Hadirkan “Sesudah Sebatang Lisong” dalam Festival Sastra Yogyakarta 2026

R444UL Diterbitkan 17:44 2 menit membaca
Ukuran Teks:

Nahnutv.com Yogyakarta — Festival Sastra Yogyakarta (FSJ) / Biennale Sastra Yogyakarta resmi dibuka pada Minggu sore, 23 Agustus 2026, di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Gelaran yang berlangsung pada 23–30 Agustus 2026 ini menghadirkan beragam karya dan apresiasi sastra dari berbagai komunitas serta lembaga kebudayaan.

Dalam perhelatan tersebut, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PWNU DIY turut diundang untuk berpartisipasi dengan menghadirkan sebuah karya instalasi seni bertajuk “Sesudah Sebatang Lisong”, yang menjadi bagian dari Monumen Kebisingan.

Karya instalasi ini menghadirkan sosok tubuh menyerupai hewan berkaki empat dengan kepala yang digantikan oleh berbagai perangkat teknologi, seperti pengeras suara, layar, radio, dan benda-benda elektronik. Secara artistik, tubuh tersebut dapat dimaknai sebagai representasi manusia yang kehilangan suara dan kendali atas dirinya sendiri.

Tubuh masih berdiri, tetapi pikirannya seolah telah dikuasai oleh mesin, informasi, propaganda, serta kebisingan zaman.

Pengeras suara pada bagian kepala menjadi simbol suara yang keras, tetapi belum tentu menyuarakan kebenaran. Sementara layar yang gelap menggambarkan pengetahuan dan informasi yang semestinya menerangi kehidupan, namun dapat menjadi kosong ketika manusia tidak lagi mampu berpikir kritis.

Adapun kaki-kaki yang rapuh namun dipaksa menopang tubuh memperlihatkan gambaran masyarakat yang terus berjalan di tengah berbagai tekanan sosial, politik, serta perkembangan teknologi.

Gagasan tersebut berkelindan dengan semangat “Sajak Sebatang Lisong” karya W.S. Rendra, yang menghadirkan kegelisahan terhadap realitas masyarakat sekaligus keberanian untuk mempertanyakan keadaan. Jika lisong dalam sajak menjadi metafora kegelisahan dan suara perlawanan, maka instalasi “Sesudah Sebatang Lisong” menghadirkan tubuh sebagai lisong yang bisu: tidak berbicara melalui kata-kata, tetapi menyampaikan teriakan melalui bentuk.

Karya ini pada akhirnya mengajak pengunjung untuk merenungkan kembali posisi manusia di tengah derasnya arus informasi dan teknologi.

Ketika manusia memiliki begitu banyak alat untuk berbicara, mengapa suaranya justru semakin kehilangan makna?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pesan utama yang coba dihadirkan melalui Monumen Kebisingan. Di tengah hiruk-pikuk informasi dan suara yang terus memenuhi ruang kehidupan, karya ini mengingatkan bahwa persoalan manusia bukan lagi sekadar bagaimana menemukan suara, tetapi bagaimana memastikan suara tersebut tetap memiliki makna, keberanian, dan daya kritis.

Keikutsertaan LESBUMI PWNU DIY dalam FSJ/Biennale Sastra Yogyakarta menjadi bagian dari upaya mempertemukan seni, sastra, tradisi, dan persoalan sosial dalam satu ruang kebudayaan. Kehadiran karya ini sekaligus menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium refleksi dan kritik sosial yang mampu membuka percakapan tentang manusia dan zamannya.

Festival Sastra Yogyakarta 2026 berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Jalan Tegalturi No. 43, Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. (lesbuminudiy)

Pimpinan Redaksi

R444UL

Divisi Redaksi Nahnu TV
Artikel Lainnya

Jurnalis di Divisi Redaksi dengan spesialisasi dalam peliputan investigatif dan penulisan berita mendalam. Berfokus pada penggalian isu aktual, wawancara narasumber kunci, dan penyajian laporan lapangan yang tajam, akurat, serta objektif untuk publik.

Tinggalkan komentar