Nahnutv.com YOGYAKARTA – Mustasyar PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KH Asyhari Abta, mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga marwah Muktamar NU sebagai forum pengabdian kepada agama dan umat. Menurutnya, muktamar tidak boleh bergeser menjadi arena persaingan politik yang justru memecah persatuan organisasi.
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan pada awal Agustus 2026, Kiai Asyhari menegaskan bahwa para pendiri NU telah meletakkan organisasi ini sebagai wadah ibadah kepada Allah SWT sekaligus sarana memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menilai, semangat tersebut harus terus menjadi pedoman bagi seluruh pengurus NU di berbagai tingkatan, termasuk jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurutnya, setiap proses muktamar hendaknya dilandasi nilai-nilai keikhlasan, ukhuwah, dan tanggung jawab moral, bukan kepentingan politik maupun perebutan kekuasaan.
Kiai Asyhari juga mengingatkan bahwa amanah sebagai pengurus NU harus dijalankan dengan niat yang tulus. Jabatan di lingkungan organisasi, katanya, bukan sarana untuk mengejar keuntungan pribadi, kepentingan ekonomi, ataupun ambisi politik yang bersifat pragmatis.
Lebih lanjut, ia menyoroti proses pemilihan calon Ketua Umum maupun Rais Aam PBNU. Menurutnya, setiap kandidat perlu mengukur kemampuan dan integritas diri sebelum maju dalam kontestasi kepemimpinan. Ia berharap proses pemilihan berlangsung secara bermartabat tanpa praktik politik uang maupun cara-cara yang mencederai nilai luhur organisasi.
“Kepemimpinan di NU harus lahir dari kapasitas, keteladanan, dan keikhlasan. Jangan sampai muktamar diwarnai praktik transaksional atau kompetisi yang mengabaikan etika,” ujarnya.
Ia menilai bahwa NU sebagai jam’iyyah diniyyah wa ijtima’iyyah memiliki karakter sebagai organisasi sosial keagamaan yang harus tetap independen. Karena itu, NU perlu menjaga jarak dari kepentingan politik praktis, tekanan kelompok tertentu, maupun kepentingan lain yang dapat menggeser tujuan perjuangan para ulama pendiri.
Kiai Asyhari mengajak seluruh peserta muktamar menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Menurutnya, para muktamirin hendaknya tidak memberikan dukungan kepada calon yang mengandalkan politik transaksional, membeli dukungan, atau membawa kepentingan di luar cita-cita perjuangan Nahdlatul Ulama.
Sebagai pengingat, ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Dawud, dan An-Nasa’i:
إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ، وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya kami tidak akan mengangkat seseorang yang meminta jabatan ataupun orang yang sangat berambisi terhadap jabatan tersebut.”
Menurutnya, hadis tersebut mengandung pesan penting bahwa kepemimpinan seharusnya lahir dari amanah dan keteladanan, bukan dari ambisi yang berlebihan. Ia berharap nilai tersebut menjadi pegangan bagi para kandidat maupun peserta muktamar agar tetap mengedepankan keikhlasan, integritas, dan menjaga kehormatan organisasi dalam setiap proses pengambilan keputusan. _Baba
