Nahnutv.com Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum., menyampaikan refleksinya pasca Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang. Menurutnya, kepulangan dari arena muktamar tidak sepenuhnya diiringi kegembiraan. Ada keprihatinan yang mendalam terhadap berbagai dinamika yang terjadi selama proses muktamar.
Ia menilai bahwa idealisme yang selama ini menjadi salah satu kekuatan NU harus berhadapan dengan berbagai persoalan, termasuk pragmatisme dan intervensi dari pihak eksternal. Kondisi tersebut, menurutnya, cukup mengganggu bahkan menyakitkan bagi mereka yang berupaya menjaga marwah organisasi.
“Kita yang menjadi pemimpin organisasi keagamaan, tetapi menghadapi dinamika yang kurang pas menurut saya untuk dilakukan oleh aktivis organisasi.”
Meski demikian, PWNU DIY bersama PCNU se-DIY tetap berkomitmen menjaga idealisme dan marwah organisasi. Komitmen tersebut menjadi pegangan agar nilai-nilai yang diyakini sebagai kebaikan tetap dipertahankan.
Memasuki Abad Kedua NU
Menurut KH. Ahmad Zuhdi, Muktamar ke-35 menjadi momentum penting karena merupakan muktamar pertama NU di abad kedua. Karena itu, NU seharusnya tidak hanya berhenti pada upaya mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, tetapi juga mulai lebih serius mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.
Semangat tersebut tercermin dalam prinsip al-muhafadzah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
Memasuki abad kedua, NU menurutnya harus mampu menghadirkan inovasi, pemikiran baru, serta kerja-kerja nyata yang sesuai dengan tantangan zaman.
Namun, realitas yang terlihat dalam muktamar justru menunjukkan adanya kerentanan dalam tubuh organisasi, terutama dalam hal idealisme dan mentalitas.
“Ternyata pada abad kedua ini kita sangat rapuh. Rapuh bagaimana kita menghadapi intervensi pihak luar, rapuh dalam menghadapi tantangan materialisme, pragmatisme dan sebagainya.”
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sebuah antiklimaks dari harapan besar terhadap NU di abad kedua. NU yang diharapkan semakin kuat dan mampu terbang jauh justru masih menghadapi persoalan internal.
Menurutnya, tantangan terbesar NU ke depan bukan hanya persoalan struktural, melainkan mentalitas para pengurus dan tokoh organisasi.
Kepemimpinan dan Khidmah
KH. Ahmad Zuhdi menilai bahwa kepemimpinan NU ke depan membutuhkan sumber daya manusia yang kokoh secara mental, memiliki visi, amanah, serta tidak menjadikan NU sebagai kendaraan untuk kepentingan politik maupun kepentingan pribadi.
Ia berharap kepemimpinan baru dapat membenahi mentalitas organisasi dan membangun kembali semangat khidmah sebagaimana yang telah dicontohkan para muassis NU.
Namun, bagi warga NU di tingkat PW, PC, MWCNU hingga ranting, pergantian kepemimpinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkhidmah.
“Kita bekerja khidmah di NU ini bukan karena figur, bukan karena seseorang. Siapapun yang pegang NU, tidak perlu kita bergantung pada mereka.”
Menurutnya, pengabdian kepada NU harus dilandasi oleh semangat khidmah yang tulus, bukan ketergantungan kepada figur tertentu. Ia mengibaratkan semangat tersebut dengan keteladanan Khalid bin Walid yang tetap mengabdikan diri kepada Islam meskipun tidak lagi menjadi panglima perang.
Taat, tetapi Tetap Kritis
KH. Ahmad Zuhdi juga menekankan pentingnya sikap kritis dalam berorganisasi. Kepemimpinan tetap harus ditaati sepanjang berjalan sesuai dengan aturan dan AD/ART organisasi. Namun, ketaatan tidak boleh menghilangkan keberanian untuk mengingatkan ketika terjadi kekeliruan.
Ia mengutip pesan KH. As’ad Syamsul Arifin bahwa seseorang tidak perlu takut mengatakan tidak atau memberikan kritik apabila memang terdapat kesalahan.
“Pemimpin tetap kita taati, tetapi jangan sampai menghilangkan sikap kritis kita jika pemimpin kita tidak benar, tidak baik.”
Menjamiahkan Jamaah
Pasca muktamar, salah satu pekerjaan besar PWNU DIY menurut KH. Ahmad Zuhdi adalah menjamiahkan jamaah, yakni membawa masyarakat yang selama ini telah menjalankan nilai-nilai ke-NU-an agar juga mengenal dan terhubung dengan jamiyah NU.
Ia menjelaskan bahwa banyak masyarakat dan komunitas yang dalam kehidupan beragamanya telah menjalankan tradisi dan nilai-nilai yang sejalan dengan NU. Namun, sebagian dari mereka belum memiliki keterikatan dengan struktur organisasi NU.
Hal yang sama juga terjadi di kalangan generasi muda. Padahal, karakter anak muda yang independen, dinamis, dan reformis sangat sesuai dengan nilai-nilai yang diusung NU dan Aswaja.
Karena itu, NU perlu menjadi jembatan antara idealisme generasi muda dengan nilai-nilai yang telah menjadi karakter organisasi.
“Jamaah kita masih banyak berjalan sendiri tanpa kehadiran jamiyah. Jadi jamiyah nampaknya belum hadir di tengah-tengah jamaah.”
Menurutnya, NU tidak cukup hanya mampu mengumpulkan jamaah. Tahap berikutnya adalah membangun barisan yang terorganisasi sehingga dapat menjadi kekuatan sosial yang mampu bekerja bersama untuk mencapai tujuan organisasi.
Tantangan Internal NU
Selain persoalan menjamiahkan jamaah, ia juga menyoroti adanya keretakan antara jamaah dan sejumlah tokoh NU. Menurutnya, ada tokoh yang sangat aktif ketika menjadi pengurus, tetapi setelah tidak lagi berada dalam struktur kepengurusan justru tidak lagi menunjukkan perhatian yang sama terhadap jamiyah NU.
Ia mengingatkan bahwa pengabdian kepada NU tidak semestinya berhenti ketika seseorang selesai menjadi pengurus. Masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk membesarkan NU meskipun berada di luar struktur kepengurusan.
Ia juga menyinggung pentingnya kaderisasi. Menurutnya, perlu ada evaluasi apakah persoalan tersebut muncul karena proses rekrutmen atau kaderisasi yang belum berjalan dengan baik.
Menata NU dari Yogyakarta
Di tingkat PWNU DIY, berbagai kerja organisasi terus dilakukan, termasuk penataan aset dan wakaf, pendataan serta pemetaan potensi wakaf, penataan masjid, penguatan lembaga pendidikan Ma’arif, RMI, Lembaga Bahtsul Masail, Lesbumi, dan berbagai lembaga lainnya.
Semua kerja tersebut diarahkan untuk memperkuat organisasi sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, ekosistem idealisme harus terus dijaga di Yogyakarta. Tidak hanya di lingkungan NU, tetapi juga di berbagai badan otonom seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU dan IPPNU.
Pemimpin Harus Melayani
KH. Ahmad Zuhdi menegaskan bahwa pemimpin NU seharusnya hadir untuk melayani, bukan dilayani.
“Pemimpin itu harus bisa melayani, bukan minta dilayani.”
Prinsip tersebut, menurutnya, juga berusaha diterapkan selama kepemimpinannya di PWNU DIY. Ia berharap prinsip tersebut dapat diteruskan oleh generasi kepemimpinan berikutnya.
Baginya, menjadi pengurus NU bukanlah kesempatan untuk mendapatkan sesuatu, melainkan kesempatan untuk berkhidmah.
Ingin Dikenang sebagai Orang Baik
Ketika ditanya ingin dikenang sebagai ketua seperti apa setelah masa khidmahnya berakhir, KH. Ahmad Zuhdi menjawab sederhana. Ia tidak berambisi dikenang sebagai ketua terbaik, melainkan hanya ingin menjadi orang yang berusaha menjalankan tugas dengan baik.
Ia mengaku berusaha rutin hadir di kantor dan meninggalkan berbagai catatan serta tulisan agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
“Saya tidak perlu menjadi orang yang terbaik. Cukup saya ingin menjadi orang baik.”
Ia menyadari bahwa selama memimpin tentu terdapat kekurangan dan kelemahan. Karena itu, ia memandang apa yang baik sebagai karunia Allah, sementara kekurangan merupakan bagian yang harus menjadi bahan evaluasi diri.
Doa untuk NU
Di akhir perbincangan, KH. Ahmad Zuhdi menyampaikan doa yang senantiasa ia panjatkan untuk NU:
“Allahumma yassir umurana, waballigh maqashidana.”
Ia berharap seluruh urusan NU dimudahkan oleh Allah dan seluruh pengurus serta warga NU dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan para ulama.
Baginya, tujuan besar NU adalah terwujudnya pelaksanaan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kerja organisasi yang terencana, mulai dari organizing, actuating, controlling, hingga evaluating.
Pada akhirnya, khidmah kepada NU harus tetap berjalan, siapapun pemimpinnya. Karena yang menjadi dasar perjuangan bukanlah figur, melainkan amanah, aturan organisasi, nilai-nilai NU, dan semangat khidmah kepada umat. (baba)