JOMBANG, Nahnu TV — Sidang Pleno IV Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, telah resmi menghitung seluruh suara dan menetapkan sembilan ulama sepuh sebagai anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA).
Para Masyayikh sepuh terpilih ini selanjutnya mengemban amanah suci untuk bermusyawarah mufakat dalam menentukan Rais ‘Aam PBNU serta merumuskan arah kepemimpinan PBNU untuk Masa Khidmah 2026–2031.
Berikut adalah profil singkat kesembilan anggota AHWA terpilih Muktamar Ke-35 NU:
1. KH. Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri)
- Profil: Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur, dan merupakan putra dari pendiri pesantren, KH. Ahmad Djazuli Utsman.
- Kiprah: Beliau senantiasa memegang teguh thariqoh ta’lim wa ta’allum (tradisi belajar-mengajar) melalui pengajian kitab-kitab klasik di pesantren. Beliau menjabat sebagai Mustasyar PBNU dan sebelumnya juga dipercaya menjadi anggota AHWA pada Muktamar Ke-34 NU.
2. Tgk. KH. Nuruzzahri Yahya (Waled NU, Aceh)
- Profil: Ulama kharismatik asal Samalanga, Bireuen, Aceh, yang juga pendiri Dayah Ummul Ayman pada tahun 1990.
- Kiprah: Sosok yang akrab disapa Waled NU ini pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Aceh (1970) serta Ketua Tanfidziyah Wilayah NAD (1995). Beliau sangat aktif dalam penyiapan kapasitas santri agar mampu berkiprah secara transformatif di ruang publik.
3. AGH. Dr. Baharuddin HS, MA (Sulawesi Selatan)
- Profil: Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan (2024–2029), Mustasyar PBNU (2021–2026), serta Syaikhul Ma’had An-Nahdlah, Makassar.
- Kiprah: Selain dikenal sebagai ahli kaligrafi Arab, beliau menjabat sebagai Ketua Umum MUI Kota Makassar sejak tahun 2015 dan konsisten mengampu pengajian takhassus kitab kuning bagi para santri dan mahasantri.
4. KH. Miftachul Akhyar (Surabaya, Jawa Timur)
- Profil: Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya, kelahiran tahun 1953.
- Kiprah: Pengasuh yang pernah menjabat sebagai Rais ‘Aam PBNU (2022–2027) dan mantan Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini dikenal sangat istiqamah dalam mengampu pengajian kitab Al-Hikam karya Syekh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari.
5. KH. Afifuddin Muhajir (Situbondo, Jawa Timur)
- Profil: Wakil Pengasuh Bidang Keilmuan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
- Kiprah: Menjabat sebagai Wakil Rais ‘Aam PBNU (2021–2026), beliau merupakan pakar fiqih dan ushul fiqih terkemuka di Indonesia yang dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Walisongo Semarang atas kontribusi keilmuannya.
6. KH. Anwar Iskandar (Banyuwangi/Kediri, Jawa Timur)
- Profil: Putra dari pendiri PP Mambaul Ulum Banyuwangi, lahir pada 24 April 1950.
- Kiprah: Menjabat sebagai Wakil Rais ‘Aam PBNU (2021–2026) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025–2030. Beliau memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang sejak muda sebagai aktivis PMII dan GP Ansor.
7. KH. M. Anwar Manshur (Lirboyo, Kediri)
- Profil: Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (sejak tahun 2014), yang lahir pada 1 Maret 1938.
- Kiprah: Kiai sepuh yang amat dihormati ini mengabdi sebagai Mustasyar PBNU (2022–2027) sekaligus Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur (2024–2029).
8. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj (Cirebon, Jawa Barat)
- Profil: Ketua Umum PBNU dua periode (2010–2021) dan pendiri Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta.
- Kiprah: Tokoh intelektual Islam internasional yang menyelesaikan studi doktor di bidang Aqidah dan Filsafat Islam dari Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi.
9. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA (Purwakarta, Jawa Barat)
- Profil: Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Purwakarta.
- Kiprah: Beliau merupakan alumni Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, yang menimba ilmu di bawah asuhan langsung ulama besar KH. Ruhiat dan KH. Ilyas Ruhiat.
Penunjukan kesembilan Masyayikh sepuh ini mencerminkan keterwakilan sanad keilmuan, keatasan akhlak, serta bobot integritas pesantren Nusantara. Melalui tradisi Ahlul Halli wal ‘Aqdi, Nahdlatul Ulama terus merawat kesantunan berorganisasi demi terwujudnya kepemimpinan yang membawa maslahat bagi keumatan dan kebangsaan.