Nahdliyin

Dari Ndalem Mbah Wahab untuk Abad Kedua NU: Kiai Sepuh AHWA Bermusyawarah Tentukan Rais ‘Aam

admin Diterbitkan 20:54 2 menit membaca
Potret ruang rapat Ahlul Halli wal Aqdi di rumah KH Abdul Wahab Hasbullah.
Ukuran Teks:

Jombang, Nahnu TV — Sembilan ulama sepuh yang terhimpun dalam formatur Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) hasil tabulasi Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan menggelar rapat tertutup untuk bermusyawarah menetapkan Rais ‘Aam PBNU Masa Khidmah 2026–2031. Musyawarah krusial ini dilaksanakan di Kediaman (Ndalem) Pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Ahad (30/8/2026).

Pemilihan Ndalem Mbah Wahab sebagai tempat persidangan tertutup AHWA sarat akan nilai historis dan spiritual. Di lokasi inilah nilai-nilai perjuangan awal pembentukan jam’iyyah dirawat, sehingga menjadi ruang yang amat teduh dan khidmat bagi sembilan Masyayikh sepuh dalam mengambil keputusan strategis demi kemaslahatan Nahdlatul Ulama dan bangsa.

Rapat musyawarah mufakat ini digelar tak lama setelah proses rekapitulasi tabulasi suara usulan muktamirin resmi diselesaikan oleh panitia pada hari yang sama.

Adapun kesembilan kiai sepuh peraih suara terbanyak yang mengemban mandat sebagai anggota AHWA Muktamar Ke-35 NU meliputi:

  1. KH Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri)
  2. TGK KH Nuruzzahri Yahya (Waled NU, Aceh)
  3. AG Dr KH Baharuddin HS, MA (Sulawesi Selatan)
  4. KH Miftachul Akhyar (Surabaya, Jawa Timur)
  5. KH Afifuddin Muhajir (Situbondo, Jawa Timur)
  6. KH Anwar Iskandar (Kediri/Banyuwangi, Jawa Timur)
  7. KH M Anwar Manshur (Lirboyo, Kediri)
  8. Prof Dr KH Said Aqil Siroj (Cirebon, Jawa Barat)
  9. Dr KH Abun Bunyamin, MA (Purwakarta, Jawa Barat)

Sesuai tata tertib dan mekanisme musyawarah yang telah disahkan dalam sidang pleno, kesembilan kiai sepuh ini memiliki mandat penuh untuk menentukan kepemimpinan tertinggi (Rais ‘Aam PBNU) sekaligus merumuskan tata cara serta arahan untuk pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.

Proses rapat berlangsung tertutup rapat dari jangkauan awak media maupun peserta muktamar. Prinsip independensi ini dijaga agar majelis AHWA sebagai ahlul ikhtiar dapat bekerja secara tenang, ikhlas, dan jernih tanpa ada campur tangan atau tekanan dari pihak luar.

Berdasarkan pantauan langsung tim Nahnu TV di lokasi pada Ahad sore, beberapa anggota AHWA di antaranya KH Abun Bunyamin dan KH Miftachul Akhyar telah tiba dan memasuki area Ndalem Mbah Wahab untuk mengikuti jalannya musyawarah.

Penulis Aktif

rdipadilaga

Divisi Redaksi Nahnu TV
Artikel Lainnya

Penulis aktif di Nahnu TV yang berfokus pada kajian Islam, pendidikan, pesantren, dan pengembangan literasi umat.

Tinggalkan komentar