Kajian Tematik Ramadan 1447 H: Ramadan sebagai Madrasah Ruhaniyah

Nahnutv.com Yogyakarta_Kajian tematik Ramadan 1447 Hijriah yang disiarkan melalui Nahnu TV disampaikan oleh KH. Edy Musoffa, Wakil Katib Syuriah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam pengantarnya, beliau menyampaikan rasa syukur atas perjumpaan kembali dengan bulan suci Ramadan serta berharap seluruh amal ibadah kaum muslimin diterima oleh Allah SWT.

KH. Edy Musoffa menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk paling sempurna karena memiliki dua unsur utama, yakni jasmani dan rohani. Unsur jasmani memungkinkan manusia berinteraksi dengan dunia material dan fisik, sementara unsur rohani menghubungkan manusia dengan dimensi spiritual dan ketuhanan. Keduanya merupakan satu kesatuan yang harus mendapatkan perhatian secara seimbang.

Menurut beliau, apabila salah satu unsur saja yang dikembangkan—misalnya kecerdasan akal tanpa kecerdasan hati—maka manusia akan menjadi “bermata satu”. Seseorang bisa memiliki ilmu tinggi dan kemampuan luar biasa, namun kehilangan kendali moral, empati, dan nurani. Hal inilah yang kerap melahirkan sikap rakus, dengki, sombong, dan penyalahgunaan jabatan, sehingga menjauhkan manusia dari hakikat kebahagiaan sejati.

Beliau menekankan bahwa tujuan hidup manusia sejatinya adalah kebahagiaan, ketentraman, kesucian, dan keindahan batin, yang semuanya bersumber dari kesehatan rohani. Oleh karena itu, Ramadan hadir sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya hidup untuk jasmani, tetapi juga untuk batin dan rohani.

Ramadan sebagai Madrasatun Ruhaniyah

KH. Edy Musoffa menjelaskan bahwa para ulama menyebut Ramadan sebagai madrasatun ruhaniyah, yakni lembaga pendidikan rohani. Dalam madrasah ini, umat Islam dididik untuk memperbaiki kualitas batin dan ketakwaan.

Setidaknya terdapat empat pelajaran utama yang diajarkan Ramadan:

Pertama, ikhlashul amal.
Puasa mendidik umat Islam untuk beramal dengan niat semata-mata mencari rida Allah SWT. Puasa adalah ibadah yang tidak bisa dipamerkan atau diviralkan, karena hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Dengan ikhlas, seseorang akan terbebas dari perbudakan dunia, tidak mengejar harta, jabatan, atau popularitas jika hal itu menjauhkan dari rida Allah.

Kedua, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Ramadan mengajarkan perjuangan membersihkan diri dari akhlak tercela seperti hasad, dengki, dan kesombongan. Puasa tidak cukup hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga harus membuaskan seluruh anggota tubuh—lisan, mata, telinga, hati, dan pikiran—dari perbuatan maksiat. Tanpa penyucian jiwa, puasa dikhawatirkan hanya menghasilkan lapar dan haus semata.

Ketiga, itqanul ibadah (peningkatan kualitas ibadah).
Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki mutu kehambaan kepada Allah, di antaranya dengan menjaga shalat lima waktu berjamaah, memperbanyak shalat sunnah, tahajud, tarawih, serta mempererat kedekatan dengan Al-Qur’an. Semua ibadah dilakukan dengan penuh kesungguhan dan tumakninah, karena shalat merupakan perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya.

Keempat, tahsinul muamalah dan penguatan empati sosial.
Ramadan mengajarkan kepedulian terhadap sesama melalui sedekah dan berbagi sesuai kemampuan. Membantu fakir miskin, meringankan beban orang lain, serta memberi makan orang yang berpuasa menjadi ladang pahala besar. Sikap empatik ini memperbaiki hubungan sosial dan menumbuhkan kasih sayang di tengah masyarakat.

Menutup kajiannya, KH. Edy Musoffa mengajak seluruh pemirsa Nahnu TV untuk menjadikan Ramadan sebagai sarana pendidikan batin yang sungguh-sungguh, dengan menata niat, membersihkan jiwa, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperkuat kepedulian sosial.

“Semoga Ramadan benar-benar menjadi ladang amal dan jalan menuju ketakwaan,” pungkasnya. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *