Ngaji Saham: Jangan Berharap Kaya dari Investasi

Pada hari Minggu, 1 Juni 2025, telah dilangsungkan acara bertajuk “Ngaji Saham” yang diadakan di Asrama Pesantren Mamba`As Sa`Adah, tepatnya di Nomporejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan pembicara M. Faisol Rizal, seorang praktisi investasi yang telah berkecimpung di dunia saham dan crypto.

Acara ini diikuti oleh beragam peserta dari berbagai latar belakang—mulai dari mahasiswa baru, mahasiswa aktif, hingga mereka yang sudah bekerja. Beberapa di antaranya adalah Zainal, Munir, Jammal, Zaffa, M. Naufal, Nopal, Zakiah, Bisma, Tanti, Devin, Ilham, dan Galang.

Dari MLM ke Investasi

Dalam pemaparannya, Rizal memulai dengan menceritakan awal perjalanannya di dunia kerja. Ia mengawali karier di bidang multi-level marketing (MLM). Di sanalah ia pertama kali mengenal konsep passive income, yaitu penghasilan yang terus mengalir tanpa harus selalu aktif bekerja.

Kesadaran inilah yang kemudian memotivasinya untuk mencari sumber passive income lain yang lebih stabil. Ia pun mulai belajar dan bergabung dengan komunitas yang fokus pada dunia investasi.

Namun sebelum benar-benar terjun ke pasar saham dan crypto, Rizal lebih dulu mencoba berbagai jenis usaha. Ia sempat berjualan teh, lalu susu sapi, namun usaha tersebut hanya bertahan tiga bulan. Dari pengalamannya itu, ia menyarankan bahwa jika ingin memulai bisnis, “usaha berbasis jasa” cenderung lebih ringan dan minim risiko.

Pentingnya Mengelola Uang dan Niat

Dalam sesi selanjutnya, Rizal mengajak para peserta untuk mulai mengelola keuangan secara bijak. Ia menekankan pentingnya menata niat, mengendalikan ego, dan menahan keinginan konsumtif sebelum mulai berinvestasi.

Ia menuturkan, agar nyaman berinvestasi—baik di saham, deposito, maupun crypto—seseorang sebaiknya memiliki dana cadangan yang cukup. Ia menyarankan untuk memiliki minimal uang “3 digit” (yang dimaksud adalah mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah).

Sebagai motivasi, Rizal mengajak peserta untuk mulai menabung secara konsisten:

  • Dari nol menuju 100 juta,
  • Kemudian dari 100 juta ke 1 miliar,
  • Lebih lanjut, dari 1 miliar hingga terus bertumbuh ke angka yang tak terbatas.

Namun yang paling ditekankan olehnya adalah, jangan pernah menggunakan uang kebutuhan harian untuk berinvestasi. Gunakanlah “uang dingin”, yaitu uang yang tidak mengganggu kebutuhan hidup sehari-hari.

Ia juga mengingatkan bahwa “risiko kehilangan” dalam investasi adalah hal yang nyata, sehingga sebaiknya tidak berharap instan kaya dari investasi. “Investasi itu bukan jalan pintas menjadi kaya. Tapi bisa jadi alat untuk membangun kekayaan secara perlahan dan terukur,” ujarnya.

Rekomendasi untuk Pemula

Di akhir sesi, beberapa peserta mengajukan pertanyaan, seperti:

“Apa pilihan investasi terbaik jika saya hanya punya uang Rp 10.000?”

Dan, “Kalau punya Rp 10 juta, enaknya diinvestasikan ke mana?”

Rizal menjawab, untuk dana kecil seperti Rp 10.000, bisa mulai dengan menabung emas secara online melalui aplikasi resmi seperti Pegadaian Digital. Sementara untuk dana Rp 10 juta, bisa dialokasikan ke Bitcoin atau aset crypto lainnya, namun ia menekankan bahwa pilihan ini cocok untuk investasi jangka panjang. Beberapa aplikasi yang ia rekomendasikan adalah TokoCrypto, Indodax, Floq, dan lainnya.

Penutup yang Hangat

Acara Ngaji Saham ditutup dengan makan bersama yang telah disiapkan oleh pengurus asrama. Suasana semakin hangat ketika peserta melanjutkan dengan bincang-bincang santai bersama pemateri. Rizal bahkan mempraktikkan langsung cara berinvestasi di berbagai platform—baik di Bitcoin, reksa dana, maupun emas digital.

Melalui acara ini, para peserta mendapat gambaran yang lebih jelas tentang pentingnya literasi keuangan dan kesiapan mental sebelum terjun ke dunia investasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *