Beli Tiket Konser 3 Juta Kuat, Patungan Kambing Kurban 3 Juta Bilang “Gak Ada Budget”: Menakar Skala Prioritas Iman Kita

Besok pagi, gema takbir akan berkumandang di seluruh pelosok negeri, menandai datangnya hari raya Iduladha. Bagi panitia kurban di masjid-masjid kampung, hari-hari ini adalah puncak kesibukan: memastikan pasokan hewan aman, membagi kupon, dan menyiapkan lubang penyembelihan. Namun, di balik keriuhan itu, ada sebuah fenomena sosiologis menarik yang terjadi di kalangan anak muda kelas menengah kita saat ini—sebuah kontradiksi finansial yang dibungkus dengan alasan psikologis.

Coba perhatikan lini masa media sosial Anda dalam beberapa bulan terakhir. Kita melihat generasi muda yang begitu royal mengeluarkan uang demi apa yang mereka sebut sebagai self-reward atau healing. Membeli tiket konser musisi internasional seharga tiga juta rupiah? Sikat, demi war tiket yang memacu adrenalin. Thrifting baju bermerek, nongkrong di kafe estetik tiap akhir pekan, atau membeli gawai keluaran terbaru lewat skema cicilan? Gas terus, katanya demi menjaga kesehatan mental dari tekanan kerja (burnout).

Namun, pemandangan kontras terjadi ketika momentum Iduladha tiba. Saat pengurus takmir masjid menyebarkan edaran patungan kambing atau sepertiga sapi kurban yang nilainya kebetulan mirip dengan harga tiket konser tadi, kalkulator di kepala mendadak bekerja dengan sangat bising. Alasan yang keluar pun seragam dan terdengar sangat rasional: “Waduh, bulan ini gak ada budget,” atau “Ekonomi lagi sulit, mending uangnya ditabung dulu.”

Matematika Kalkulatif dalam Beribadah

Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sering kali menerapkan standar ganda dalam menilai pengeluaran. Uang tiga juta rupiah terasa sangat kecil dan bernilai “investasi kebahagiaan” jika ditukar dengan pengalaman dua jam menonton konser. Namun, uang dengan nominal yang persis sama mendadak terasa sangat besar dan memberatkan jika ditukar dengan seekor kambing yang dagingnya akan dibagikan kepada fakir miskin.

Dalam kajian psikologi agama, ini adalah indikasi bahwa ibadah sering kali diposisikan sebagai “beban biaya” (cost), bukan sebagai bentuk kesadaran teologis. Kita terjebak dalam kapitalisme spiritual, di mana setiap rupiah yang keluar harus menghasilkan keuntungan instan yang bisa dirasakan oleh ego kita sendiri. Konser memberikan kepuasan dopamin yang instan melalui validasi sosial di Instagram Stories, sedangkan kurban? Ia menuntut ketulusan yang sunyi dan keikhlasan untuk melepas apa yang kita cintai tanpa ada timbal balik visual yang instan.

Mengaji Ulang Hakikat “Nafs” dan Ego Sembelihan

Jika kita membuka kembali lembaran sejarah Islam melalui kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, kita akan menemukan bahwa esensi kurban sesungguhnya adalah menyembelih sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia—sifat rakus, kikir, egois, dan merasa memiliki segalanya. Hewan ternak yang disembelih besok pagi hanyalah simbol fisik dari kerelaan kita untuk menundukkan ego egois di hadapan perintah Tuhan.

Tragedinya, anak muda hari ini justru sering kali memperlakukan self-reward bukan sebagai bentuk apresiasi diri, melainkan sebagai bentuk pemujaan terhadap nafsu konsumtif (ittiba’ul hawa). Kita memanjakan ego kita dengan dalil “menyenangkan diri sendiri”, tetapi kita kikir luar biasa ketika diminta membagi sebagian rezeki untuk kepentingan sosial.

Padahal, dalam konsep Maqasid al-Syariah, ibadah kurban dirancang untuk menciptakan keseimbangan sosial (takaful ijtima’i). Melalui sekeranjang daging yang didistribusikan, Islam ingin memastikan bahwa pada hari esok, tidak boleh ada satu pun perut yang kelaparan di sekitar kita. Kurban mengajari kita untuk menggeser fokus hidup dari “aku” (apa yang bisa aku konsumsi hari ini) menjadi “kita” (bagaimana orang lain bisa ikut bahagia bersama kita).

Iman yang Butuh Validasi Keuangan

Nabi Ibrahim Alaihissalam dulu tidak diperintahkan menyembelih kambing, melainkan diperintahkan menyembelih anak kandungnya yang sangat beliau cintai, Nabi Ismail. Ini adalah ujian cinta level tertinggi: apakah Ibrahim lebih mencintai pemberian Tuhan (anaknya) atau mencintai Sang Pemberi itu sendiri? Nabi Ibrahim lulus karena beliau paham bahwa segala yang ada di dunia ini hanyalah titipan.

Nah, ujian kita hari ini tentu tidak seekstrem Nabi Ibrahim. Kita tidak diminta mengorbankan nyawa anak kita. Kita hanya diminta mengorbankan sedikit dari jatah gaya hidup kita. Tuhan hanya ingin menguji, di manakah posisi uang tiga juta rupiah itu di dalam hati kita? Apakah ia melulu habis untuk membiayai gengsi sosial di hadapan manusia, ataukah ia bisa disisihkan untuk membuktikan cinta kita kepada sesama manusia atas nama Tuhan?

Menolak berkurban dengan alasan benar-benar tidak mampu secara ekonomi adalah hal yang sangat manusiawi dan dimaklumi dalam syariat, karena Islam tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan. Namun, merasa tidak mampu berkurban padahal mutasi rekening kita penuh dengan pengeluaran tersier yang hedonis, itu namanya bukan tidak mampu, melainkan tidak mau. Itu adalah tanda bahwa prioritas iman kita sedang mengalami pergeseran fungsi yang serius.

Saatnya Menyembelih Gengsi

Besok, sebelum kita menyaksikan hewan-hewan kurban itu roboh di tanah, ada baiknya kita merenung sejenak di depan cermin kamar kita masing-masing. Jangan-jangan, yang perlu disembelih besok pagi bukan cuma kambing atau sapi milik tetangga, melainkan gengsi kita yang terlalu besar, ego kita yang terlalu manja, dan gaya hidup kita yang terlalu konsumtif.

Iduladha adalah momen yang tepat untuk melakukan detoksifikasi mental dari racun produktivitas beracun dan konsumerisme modern. Berhentilah menghitung matematika kalkulatif dengan Tuhan. Sebab, jika Tuhan menggunakan matematika yang sama dalam menghitung oksigen, kesehatan, dan detak jantung yang kita nikmati gratis setiap hari, niscaya kita semua sudah bangkrut sejak lama. Mari jadikan kurban besok sebagai true self-reward yang sesungguhnya—sebuah penghargaan tertinggi untuk jiwa kita karena berhasil menang melawan kedengkian ego sendiri.*rdp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *