Nahdliyin

Nyai Hj. Istijabah: Menjaga Nyala Al-Qur’an dari Wonokromo

R444UL Diterbitkan 16:23 9 menit membaca
Ukuran Teks:

Nahnutv.com_Di tengah denyut kehidupan masyarakat Wonokromo, Pleret, Bantul, tumbuh sebuah tradisi keilmuan Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu sosok penting dalam perjalanan tradisi tersebut adalah Nyai Hj. Istijabah, pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Imam, Wonokromo.

Namanya tidak hanya dikenang sebagai seorang pengasuh pesantren. Ia adalah perempuan yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur’an, mendidik santri, melayani masyarakat, dan mempertahankan keberlangsungan majelis taklim yang telah dirintis keluarganya.

Penelitian sejarah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mencatat bahwa Nyai Istijabah lahir pada 31 Desember 1927, sebagai anak kedua dari pasangan Kiai Imam dan Nyai Warsiyah. Sejak kecil ia telah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjadikan pendidikan dan dakwah Islam sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Tumbuh dalam keluarga pejuang pendidikan Islam

Kehidupan Nyai Istijabah tidak dapat dilepaskan dari kiprah kedua orang tuanya. Ayahnya, Kiai Imam, dikenal aktif mengembangkan pengajaran agama Islam di Wonokromo. Bersama Nyai Warsiyah, ia merintis dan menghidupkan Majelis Ta’lim yang menjadi tempat masyarakat belajar agama.

Dalam kenangan keluarga, Kiai Imam merupakan sosok yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan keagamaan masyarakat. Pada masa ketika bangsa Indonesia masih berada dalam suasana penjajahan dan pergolakan, kegiatan pengajian menjadi salah satu sarana penting untuk menanamkan pengetahuan agama sekaligus membangun ketahanan moral masyarakat.

Majelis yang dirintis Kiai Imam tidak hanya menjadi tempat mengaji. Ia menjadi ruang pertemuan masyarakat, tempat orang-orang tua belajar agama, sekaligus tempat tumbuhnya generasi santri.

Setelah Kiai Imam wafat, perjuangan tersebut diteruskan oleh Nyai Warsiyah. Pengajian tetap berjalan dengan kajian-kajian keagamaan yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Dari lingkungan inilah Nyai Istijabah menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah majelis taklim dirawat dengan ketekunan dan kesabaran.

Dari majelis taklim menuju pesantren

Warisan perjuangan keluarga tersebut kemudian diteruskan Nyai Istijabah.

Penelitian UIN Sunan Kalijaga menyebutkan bahwa sekitar 1965, Nyai Istijabah mulai terjun langsung meneruskan perjuangan melalui majelis peninggalan ayahnya. Pengajian tersebut semakin berkembang dan menarik semakin banyak santri.

Pada awalnya, para santri datang untuk mengaji kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sebagian di antara mereka bahkan dikenal sebagai santri kalong, yakni santri yang datang pada waktu pengajian dan kembali ke rumah setelah selesai belajar.

Namun, seiring bertambahnya jumlah santri, muncul kebutuhan akan tempat tinggal. Terlebih, sebagian santri berasal dari daerah yang cukup jauh sehingga tidak memungkinkan mereka pulang setiap hari.

Keadaan tersebut mendorong Nyai Istijabah untuk menyediakan tempat bagi santri yang ingin bermalam. Sekitar 1968, mulai dibangun tempat tinggal bagi santri. Perkembangan inilah yang kemudian menjadi salah satu tahap penting menuju berdirinya pesantren.

Pada 1978, lembaga tersebut kemudian diresmikan sebagai Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Imam. Nama Darul Qur’an disebut diberikan oleh KH Idham Chalid, sedangkan nama Al-Imam diambil dari nama ayah Nyai Istijabah, Kiai Imam.

Dengan demikian, berdirinya pesantren pada 1978 bukanlah awal dari perjuangan Nyai Istijabah. Pesantren tersebut merupakan kelanjutan dari proses panjang pendidikan Al-Qur’an dan majelis taklim yang telah berlangsung sebelumnya.

Mengasuh pesantren tanpa pendamping Kiai

Ada hal yang membuat perjalanan Nyai Istijabah menjadi istimewa.

Sejak berdirinya Pondok Pesantren Darul Qur’an Putri Al-Imam, ia disebut memegang kendali pesantren secara langsung. Ia menjalankan berbagai fungsi sekaligus: sebagai pendiri, pengasuh, pendidik, pembimbing, orang tua pengganti bagi para santri, sekaligus motivator bagi santri dan masyarakat.

Pesantren pada umumnya sering kali dikenal melalui figur seorang Kiai. Namun, di Wonokromo, masyarakat menyaksikan bagaimana seorang perempuan mampu mengelola dan mengembangkan pesantren melalui ketekunan, kedisiplinan, serta keteladanan.

Nyai Istijabah tidak sekadar memberikan pengajaran secara lisan. Kehidupan sehari-harinya menjadi bagian dari pendidikan. Santri belajar dari cara ia mengatur waktu, melayani masyarakat, menjaga ibadah, mengajarkan Al-Qur’an, hingga menjalankan aktivitas ekonomi untuk menopang kebutuhan keluarga dan pesantren.

Karena itu, pengaruh Nyai Istijabah terhadap santri tidak hanya berlangsung di ruang pengajian. Ia menjadi figur ibu bagi santri yang harus berjauhan dengan keluarga.

Mengajarkan Al-Qur’an dengan kesabaran

Salah satu ciri penting pendidikan Nyai Istijabah adalah ketekunan dalam mengajarkan Al-Qur’an.

Metode yang digunakan antara lain sistem sorogan. Santri belajar secara bertahap dan mendapatkan perhatian langsung dari guru. Bacaan diperiksa dengan teliti sebelum santri diperbolehkan melanjutkan ke tahap berikutnya.

Dalam tradisi pengajaran seperti ini, kecepatan bukanlah tujuan utama. Ketepatan bacaan, kefasihan, dan kemampuan santri memahami apa yang dipelajari menjadi perhatian penting.

Pesan yang diwariskan Nyai Istijabah kepada murid-muridnya adalah agar mengajar Al-Qur’an dengan sabar dan tidak tergesa-gesa. Prinsip tersebut menggambarkan karakter pendidikan yang ia bangun: sedikit demi sedikit, tetapi kokoh.

Bagi Nyai Istijabah, Al-Qur’an bukan hanya sesuatu yang harus dibaca dan dihafalkan, melainkan ilmu yang harus dijaga melalui kedisiplinan dan istiqamah.

Sanad keilmuan Al-Qur’an

Perjalanan keilmuan Nyai Istijabah juga memiliki hubungan dengan jaringan ulama Al-Qur’an di Jawa.

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama mencatat Nyai Hj. Istijabah dari PP Al-Imam, Wonokromo, Plered, Bantul, Yogyakarta, sebagai salah seorang murid KH Ahmad Umar Abdul Mannan yang kemudian mengabdi kepada masyarakat.

KH Ahmad Umar Abdul Mannan sendiri dikenal sebagai ulama Al-Qur’an yang memiliki perhatian besar terhadap tradisi tahfiz dan sanad Al-Qur’an. Ia merupakan bagian dari jaringan keilmuan Al-Qur’an yang berkembang kuat di Jawa. Sumber LPMQ juga mencatat sejumlah muridnya yang kemudian mendirikan atau mengembangkan lembaga pendidikan Al-Qur’an di berbagai daerah.

Keterangan ini menempatkan Nyai Istijabah bukan hanya sebagai pengasuh pesantren lokal, tetapi juga sebagai bagian dari rantai transmisi keilmuan Al-Qur’an yang lebih luas.

Berdagang sekaligus mengajar

Kehidupan Nyai Istijabah juga memperlihatkan bagaimana seorang pengasuh pesantren harus mampu menjalankan berbagai peran sekaligus.

Di sela-sela mengajar dan mengasuh santri, ia juga berdagang. Aktivitas tersebut dilakukan untuk menopang kehidupan keluarga sekaligus keberlangsungan pesantren.

Pagi dan malam waktunya banyak digunakan untuk mengajar, sedangkan siang hari dapat dimanfaatkan untuk berdagang atau memenuhi keperluan lainnya.

Kesibukan tersebut tidak membuat pengajaran Al-Qur’an ditinggalkan. Justru dari sini terlihat bagaimana pesantren pada masa itu tumbuh dengan kesederhanaan dan kemandirian.

Pesantren tidak selalu dibangun dengan fasilitas besar sejak awal. Ia tumbuh dari rumah, mushala, majelis taklim, dan ketekunan seorang guru yang tidak pernah berhenti mengajar.

Wonokromo dan ekosistem pendidikan Islam

Perjuangan Nyai Istijabah juga berlangsung dalam lingkungan masyarakat Wonokromo yang memiliki tradisi pendidikan Islam cukup kuat.

Pada 1962, misalnya, masyarakat Wonokromo mendirikan PGA Bapendan (Pendidikan Guru Agama Badan Pendidikan An-Nahdloh) atas prakarsa sejumlah tokoh dan ulama setempat. Kepala PGA Bapendan ketika itu adalah Basuni, S.H., yang menurut sejarah resmi MAN 3 Bantul merupakan adik Nyai Istijabah.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa keluarga Nyai Istijabah berada dalam lingkungan sosial yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan.

Wonokromo berkembang sebagai ruang bertemunya berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan. Majelis taklim, pesantren, madrasah, dan kegiatan pengajaran Al-Qur’an tumbuh berdampingan dan saling menguatkan.

Dalam konteks itulah keberadaan Darul Qur’an Al-Imam menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Islam di Wonokromo.

Perempuan yang menjadi pusat kehidupan pesantren

Kisah Nyai Istijabah memiliki makna lebih luas dalam sejarah pesantren, terutama mengenai kepemimpinan perempuan.

Ia menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat menjadi pendiri sekaligus pengasuh utama pesantren, mengatur pendidikan, membimbing santri, menjaga hubungan dengan masyarakat, serta mempertahankan tradisi keilmuan.

Kepemimpinannya tidak dibangun melalui jabatan formal. Wibawa tersebut lahir dari keteladanan.

Santri melihat langsung bagaimana pengasuhnya menjalani kehidupan sehari-hari. Dari situlah muncul kepercayaan.

Penelitian mengenai peran Nyai Istijabah menyimpulkan bahwa ia menjalankan fungsi kepemimpinan pesantren melalui peran sebagai pendiri, pengasuh, pendidik, orang tua pengganti bagi santri, dan motivator bagi masyarakat.

Mendidik generasi penghafal Al-Qur’an

Perjuangan panjang tersebut pada akhirnya melahirkan generasi-generasi yang meneruskan tradisi Al-Qur’an.

Darul Qur’an Al-Imam berkembang sebagai pesantren yang memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan dan tahfiz Al-Qur’an. Penelitian UIN Sunan Kalijaga mencatat bahwa pesantren tersebut melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an, khususnya dari wilayah Pleret dan sekitarnya.

Tradisi tersebut juga masih terlihat dalam aktivitas pesantren pada masa kini. Dokumentasi kegiatan Darul Qur’an Al-Imam menunjukkan adanya kegiatan tasmi’ Al-Qur’an dan Haflah Khotmil Qur’an, termasuk kegiatan yang berlangsung pada 2025.

Dengan demikian, warisan Nyai Istijabah bukan hanya bangunan pesantren. Warisan yang jauh lebih penting adalah tradisi membaca, menghafal, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Keteladanan yang diwariskan

Bagi keluarga dan santri, Nyai Istijabah dikenang sebagai sosok yang istiqamah.

Ia mengajarkan bahwa perjuangan di pesantren tidak selalu berbentuk kegiatan besar. Terkadang perjuangan itu hadir dalam bentuk yang sederhana: membuka pengajian, menerima santri, mengoreksi bacaan Al-Qur’an, menyediakan tempat tidur bagi santri yang datang dari jauh, memasak untuk mereka, dan terus mengajar meskipun keadaan terbatas.

Pesantren tumbuh karena ada orang yang bersedia merawatnya setiap hari.

Dan Nyai Istijabah menjalankan peran tersebut selama puluhan tahun.

Dari sebuah majelis menuju sebuah pesantren

Jika melihat perjalanan Darul Qur’an Al-Imam secara keseluruhan, sejarahnya dapat dibaca sebagai sebuah proses yang panjang.

Kiai Imam dan Nyai Warsiyah merintis tradisi majelis taklim.
Nyai Istijabah kemudian meneruskan perjuangan tersebut.
Sekitar 1965, ia mulai aktif mengembangkan majelis peninggalan ayahnya.
Sekitar 1968, kebutuhan tempat tinggal santri mendorong pembangunan tempat menginap.
Dan pada 1978, lembaga tersebut resmi berkembang menjadi Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Imam.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa sebuah pesantren tidak selalu lahir dari sebuah peristiwa tunggal.

Ada proses panjang di belakangnya: ada majelis, guru, santri, masyarakat, keluarga, perjuangan ekonomi, dan terutama ketekunan untuk terus mengajarkan ilmu.

Menjaga warisan Nyai Istijabah

Nyai Hj. Istijabah telah meninggalkan sebuah warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar nama sebuah pesantren.

Ia meninggalkan tradisi keilmuan Al-Qur’an.

Ia meninggalkan keteladanan kepemimpinan perempuan dalam pesantren.

Ia meninggalkan semangat melayani masyarakat melalui pendidikan.

Dan yang paling penting, ia meninggalkan generasi yang terus menjaga Al-Qur’an.

Hari ini, ketika kegiatan tahfiz, tasmi’, dan khotmil Qur’an masih berlangsung di Darul Qur’an Al-Imam, sesungguhnya api perjuangan yang dahulu dinyalakan oleh keluarga Kiai Imam dan kemudian dirawat Nyai Istijabah masih terus menyala.

Dari sebuah majelis sederhana di Wonokromo, lahirlah sebuah pesantren yang menjadi rumah bagi para pencari ilmu.

Dari seorang perempuan yang mengajar dengan tekun, lahirlah generasi yang membawa Al-Qur’an dalam kehidupan mereka.

Dan dari keteguhan seorang Nyai, masyarakat belajar bahwa pesantren dapat tumbuh bukan hanya karena besarnya bangunan, tetapi karena istiqamah orang-orang yang menghidupkan ilmunya.Nyai Hj. Istijabah adalah salah satu di antara mereka. (baba)

Pimpinan Redaksi

R444UL

Divisi Redaksi Nahnu TV
Artikel Lainnya

Jurnalis di Divisi Redaksi dengan spesialisasi dalam peliputan investigatif dan penulisan berita mendalam. Berfokus pada penggalian isu aktual, wawancara narasumber kunci, dan penyajian laporan lapangan yang tajam, akurat, serta objektif untuk publik.

Tinggalkan komentar