SLEMAN, NahnuTV – Gerakan Keluarga Maslahah Nahdlatul Ulama (GKMNU) bekerja sama dengan United Nations Population Fund (UNFPA) menggelar dialog tokoh agama tentang pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren. Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Salafiyah, Mlangi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (14/10/2026), ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat pemahaman kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren melalui pendekatan keagamaan.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua GKMNU, Ning Alissa Wahid, sejumlah tokoh agama, pimpinan PWNU dan badan otonom NU tingkat DIY, serta perwakilan guru dan santri. Hadir pula sejumlah pejabat UNFPA dan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia.
Dalam dialog tersebut, Ning Alissa Wahid menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk pemahaman keagamaan sekaligus membekali santri dengan pengetahuan yang relevan bagi kehidupan mereka. Para santri yang sebagian besar berada pada usia remaja membutuhkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi.
Menurutnya, materi kesehatan reproduksi akan lebih mudah diterima apabila disampaikan melalui pendekatan yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan tradisi pesantren.
“Pembekalan ini tentu akan lebih mudah diterima dan dipahami oleh santri jika disampaikan dengan menggunakan bahasa agama,” ujar Ning Alissa.
Meski demikian, ia mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren. Salah satunya adalah keterbatasan pengetahuan dan keterampilan sebagian pengasuh serta guru dalam memahami pendidikan kesehatan reproduksi sebagai bagian dari upaya pencegahan kekerasan seksual, kehamilan pada usia remaja, perkawinan usia anak, serta penularan infeksi menular seksual dan HIV.
Tantangan tersebut juga berkaitan dengan beragamnya karakteristik dan tata kelola pesantren. Setiap pesantren memiliki independensi, tradisi, dan tipologi masing-masing sehingga belum terdapat satu standar tunggal mengenai bentuk maupun materi pendidikan kesehatan reproduksi yang terintegrasi dalam kurikulum pesantren.
Karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu melengkapi pendidikan keagamaan yang telah berjalan dengan pengetahuan kesehatan yang tepat, tanpa mengabaikan nilai-nilai Islam dan karakteristik masing-masing pesantren.

Santri Membutuhkan Ruang Belajar dan Dialog
Dalam sesi dialog interaktif, sejumlah santri menyampaikan aspirasi mengenai pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi. Mereka menilai materi tersebut sangat dibutuhkan, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam menemukan ruang bertanya dan sumber pengetahuan yang tepat.
Selama ini, pembahasan mengenai persoalan tersebut di ruang kelas dinilai lebih banyak menggunakan perspektif fikih. Para santri berharap materi tersebut dapat diperkaya dengan perspektif kesehatan dan pengetahuan lain yang relevan agar pemahaman mereka semakin utuh.
Aspirasi tersebut mendapat respons positif dari pihak UNFPA. Kolaborasi dengan NU diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung penguatan pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren dan memberikan masukan bagi pemerintah Indonesia.
Pendekatan ini bukan untuk menggantikan pendidikan agama yang telah diajarkan, melainkan melengkapinya dengan informasi kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga santri memperoleh bekal pengetahuan yang lebih komprehensif.
Kolaborasi NU dan UNFPA
Dialog tersebut turut dihadiri Andrew Saberton, Deputy Executive Director UNFPA; Dr. Aleksandar (Sasha) Bodiroza, Regional Director UNFPA Asia Pacific; Hassan Mohtashami, Representative UNFPA Indonesia; Verania Andria, Assistant Representative UNFPA Indonesia; serta Kaja Glomm, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia.
Dari jajaran GKMNU PBNU, selain Ning Alissa Wahid, hadir pula Fahmy Akbar Idris dan Gus Ulun Nuha.
Sejumlah tokoh NU dan pesantren yang hadir di antaranya Dr. Irwan Masduqi, KH Chasan Abdullah selaku pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Mlangi, Ketua PWNU DIY A. Zuhdi Muhdlor, Ketua PW Muslimat NU DIY Hj. Fatma Amilia, Ketua PW Fatayat NU DIY Maryam Vivin Fitriana, serta Ketua Satgas Pesantren Ramah Anak dan Perempuan Dr. Maya Fitria.
Melalui dialog ini, GKMNU dan UNFPA mendorong penguatan sinergi antara tokoh agama, pengelola pesantren, tenaga pendidik, dan pemangku kepentingan terkait. Harapannya, pesantren dapat terus menjadi ruang pendidikan yang membentuk generasi berakhlak mulia, memiliki pengetahuan yang memadai, serta mampu menjaga kesehatan dan keselamatan diri.
Pendidikan kesehatan reproduksi yang disampaikan secara tepat, inklusif, dan selaras dengan nilai-nilai keagamaan diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mewujudkan keluarga dan lingkungan pesantren yang maslahat, aman, serta ramah bagi anak dan remaja.