Gus Kikin: Ulama dan Umaro Harus Bersatu Menjaga NKRI di Abad Kedua NU

Nahnutv.com Malang — Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Abdul Halim Mahfudz (Gus Kikin), menyampaikan sambutan dalam acara Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama yang digelar di Stadion Gajayana, Malang. Kegiatan tersebut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, jajaran pimpinan PBNU, para menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI, Kapolri, serta ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah.

Dalam pidatonya, Gus Kikin menyampaikan penghormatan kepada Presiden Prabowo Subianto, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta seluruh jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PBNU dan PWNU Jawa Timur.

Ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Mujahadah Kubro sebagai puncak rangkaian peringatan satu abad NU. Menurutnya, momen ini menjadi bentuk syukur atas perjalanan panjang organisasi yang kini telah berusia satu abad menurut kalender Masehi.

“Pagi ini kita berkumpul dalam semangat kebersamaan dan keguyuban untuk mensyukuri perjalanan Nahdlatul Ulama yang telah mencapai usia satu abad,” ujarnya.

Gus Kikin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga NU Jawa Timur yang hadir dengan penuh pengorbanan. Ia menyebut kehadiran puluhan ribu jamaah sebagai bukti kecintaan kepada jam’iyah serta komitmen menjaga warisan para muassis NU.

Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi simbol kuatnya persatuan lintas elemen masyarakat. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Muhammadiyah yang menyiapkan ribuan paket konsumsi, sekolah-sekolah sekitar stadion yang membuka fasilitas, serta pengurus gereja yang menyediakan tempat dan menyesuaikan jadwal kebaktian, dinilai sebagai wujud toleransi dan harmoni sosial yang selaras dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Mengutip dawuh Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Mukadimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama, Gus Kikin mengingatkan pentingnya persatuan dan kasih sayang dalam berorganisasi. Seruan pendiri NU agar seluruh lapisan masyarakat—baik fakir maupun kaya, lemah maupun kuat—bersatu dalam jam’iyah dengan ikatan cinta dan persaudaraan disebutnya tetap relevan hingga kini.

Kini, lanjutnya, NU telah berkembang menjadi organisasi dengan jumlah anggota lebih dari 100 juta orang. Besarnya jumlah tersebut merupakan anugerah sekaligus amanah yang menuntut kerja keras, kerja cerdas, serta kesetiaan pada prinsip dasar pendirian organisasi.

“Organisasi ini berdiri di atas prinsip keadilan, keamanan, perdamaian, dan kebaikan. Ia terasa manis bagi orang-orang baik, namun terasa sesak bagi orang-orang yang jahat,” tegasnya.

Memasuki abad kedua, Gus Kikin menekankan bahwa tugas menjaga tradisi sekaligus meneguhkan komitmen terhadap NKRI bukan perkara ringan. Karena itu, ia mengajak seluruh warga NU untuk kembali berpegang teguh pada Qanun Asasi serta menguatkan budaya saling menasihati, berdakwah dengan hikmah, dan membangun argumentasi yang kokoh.

Di hadapan Presiden, Gus Kikin juga menyampaikan harapan agar warga NU dapat terus bersinergi dengan pemerintah dalam membangun bangsa. Ia menilai menyatunya ulama dan umara merupakan modal strategis untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat.

“Bagi kami, kehadiran Bapak Presiden bukan sekadar simbolik, tetapi juga substantif. Ini menunjukkan menyatunya ulama dan umara sebagai kekuatan penting bagi bangsa,” ungkapnya.

Menutup sambutannya, Gus Kikin memohon arahan Presiden agar warga NU dapat menempatkan diri secara tepat dalam membersamai agenda pemerintahan. Ia berharap kebersamaan tersebut mengantarkan Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *