Nahnutv.com Yogyakarta – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) melaksanakan kunjungan kerja turun ke bawah (turba) ke Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta pada Ahad, 8 Maret 2026. Kegiatan tersebut digelar di Kantor PCNU Kota Yogyakarta, Jl. Ngasem, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta.

Ketua PCNU Kota Yogyakarta, Mukhamad Yazid Afandi, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan turba yang dinilai menjadi sarana penting untuk memperkuat komunikasi antara pengurus wilayah dan cabang.
Menurutnya, kegiatan tersebut membuka ruang dialog yang lebih terbuka antara PCNU dan PWNU untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di tingkat cabang.
“Acara ini patut diapresiasi karena menjadi ruang komunikasi aktif antara PCNU dan PWNU. Secara struktural banyak hal yang bisa disampaikan, baik dari cabang maupun dari wilayah untuk ditindaklanjuti bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain mempererat silaturahmi, turba juga menjadi momentum untuk menginventarisasi berbagai persoalan yang dihadapi organisasi di tingkat bawah.
“Meminjam istilah dari Sekretaris Umum PWNU DIY, ini semacam shopping masalah. Meskipun waktunya singkat, setidaknya ada beberapa persoalan yang bisa disampaikan secara langsung,” katanya.

Sementara itu, Ketua PWNU DIY, Ahmad Zuhdi Muhdlor, menjelaskan bahwa turba merupakan bagian dari upaya konsolidasi organisasi sekaligus menyerap aspirasi dari pengurus cabang.
Ia menyebutkan bahwa pada putaran keempat turba ini, antusiasme pengurus PCNU Kota Yogyakarta cukup tinggi dengan kehadiran pengurus cabang maupun perwakilan majelis wakil cabang.
Dalam kesempatan tersebut, PWNU DIY juga menyampaikan sejumlah perkembangan dinamika organisasi di tingkat nasional, termasuk hasil rapat pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menghasilkan beberapa keputusan strategis.
Salah satu agenda penting yang disampaikan adalah rencana penyelenggaraan Muktamar NU yang direncanakan berlangsung pada akhir Juli atau awal Agustus 2026. Sebelum itu, akan digelar Musyawarah Nasional (Munas) atau Konferensi Besar (Konbes) pada akhir bulan Syawal.
Selain membahas dinamika organisasi, forum diskusi juga menyoroti beberapa isu strategis di lingkungan NU, seperti pengelolaan tanah wakaf, pengelolaan lembaga pendidikan, serta pentingnya perumusan mandat dan arah program organisasi hingga ke tingkat bawah.
Menurutnya, berbagai persoalan yang disampaikan oleh PCNU akan menjadi bahan diskusi lebih lanjut di tingkat wilayah hingga nasional.
“Berbagai persoalan yang muncul dari PCNU ini akan kita diskusikan bersama dan pada akhirnya akan kita sampaikan ke forum PBNU atau forum nasional,” jelasnya.

