Pagi hari bagi umat manusia modern dimulai dengan dua ritual: mematikan alarm dan membuka WhatsApp. Di sinilah “penghakiman akhir zaman” versi digital dimulai. Belum juga nyawa terkumpul utuh, mata kita sudah disuguhi pesan broadcast dengan format tulisan tebal-miring yang isinya mengingatkan bahwa amalan kita kemarin salah, bid’ah, atau minimal kurang sunnah. Kalau tidak ikut cara mereka, neraka seolah sudah dipesan lewat sistem pre-order.
Grup WhatsApp keluarga atau alumni sekolah kini bukan lagi tempat berbagi kabar duka atau sekadar info diskon minimarket. Ia telah menjelma menjadi “majelis fatwa” dadakan yang paling galak. Admin grup, yang mungkin baca kitab Safinah saja belum khatam, tiba-tiba punya wewenang teologis untuk menentukan siapa yang berhak masuk surga dan siapa yang harus mampir di “ruang tunggu” siksa kubur. Surga yang katanya seluas langit dan bumi, mendadak jadi terasa sesempit layar gawai lima inci.
Surga yang Dipagari Algoritma
Masalahnya, kita sering merasa paling benar hanya karena algoritma dan lingkungan pertemanan. Dalam kajian sosiologi komunikasi, ini disebut filter bubble. Kita terjebak dalam gelembung di mana setiap hari kita cuma mendengar gema suara sendiri. Kita merasa mewakili miliaran umat Muslim sedunia, padahal kita cuma mewakili isi chat yang anggotanya cuma 20 orang—itu pun kalau tidak dipotong anggota yang sudah mute grup selamanya.
Dari sinilah lahir sikap eksklusif digital. Kita mulai memandang orang di luar grup kita dengan tatapan penuh kasihan, seolah mereka adalah pengungsi akhirat yang tersesat. Kita merasa kalau Tuhan itu hanya milik kelompok kita, dan surga adalah properti pribadi yang kuncinya cuma dipegang oleh ustadz idola grup WhatsApp kita saja. Kita lupa bahwa sebelum ada internet, para ulama menghabiskan puluhan tahun hanya untuk memahami satu baris kalimat dalam kitab, sementara kita merasa sudah jadi ahli surga hanya dengan sekali klik tombol forward.
Belajar dari Santainya Para Imam Mazhab
Dulu, para imam mazhab itu kalau berbeda pendapat santainya minta ampun. Imam Syafi’i, misalnya, ketika berkunjung ke wilayah penganut mazhab Imam Hanafi, beliau sengaja tidak membaca doa Qunut saat salat Subuh. Alasannya sederhana: menghormati tuan rumah dan menghargai pendapat guru dari Imam Hanafi. Bayangkan, sekelas mujtahid mutlak saja masih punya rasa “nggak enak hati” soal perbedaan furu’iyah (cabang).
Bandingkan dengan kita sekarang. Hanya karena beda pilihan bacaan niat salat atau beda jumlah rakaat tarawih, kita bisa langsung “left group” tanpa pamit, atau lebih parah, menyebar stiker WhatsApp berisi ancaman api neraka dengan latar gambar api yang membara. Kita ini seolah menderita penyakit “tuhan-kompleks”: merasa punya hak prerogatif untuk memverifikasi siapa yang layak mencium bau surga dan siapa yang tidak. Padahal, bacaan Al-Fatihah kita saja mungkin belum tentu lulus sensor Tajwid di hadapan malaikat kalau beneran dicek satu-satu.
Logika Piza dan Kasih Sayang Tuhan
Padahal, dalam tradisi Ushul Fiqh, ada kaidah emas yang seharusnya ditempel di dahi setiap admin grup WA: “Pendapatku benar, tapi mengandung kemungkinan salah; dan pendapat orang lain salah, tapi mengandung kemungkinan benar.” Kalimat ini adalah obat antipiretik paling manjur untuk menurunkan demam merasa paling benar sendiri. Sayangnya, kaidah ini sering kalah populer dibanding pesan broadcast “Sebarkan jika Anda sayang keluarga” yang sumbernya entah dari situs antah berantah yang domainnya saja masih gratisan.
Kita perlu sadar bahwa kebenaran itu bukan seperti piza yang kalau sudah dipotong satu loyang untuk kelompok kita, maka kelompok lain nggak kebagian. Kasih sayang Tuhan itu luas, tidak terbatas oleh kuota internet atau jumlah pengikut di media sosial. Kalau kita menyempitkan rahmat Tuhan hanya untuk kelompok WhatsApp kita yang isinya cuma tukang kopi, pemburu diskon marketplace, dan penyebar hoaks kesehatan, jangan-jangan sebenarnya kita sedang menyembah ego kita sendiri, bukan menyembah Tuhan yang Maha Luas Rahmat-Nya.
Jempol yang Lebih Cepat dari Nurani
Kecepatan jempol kita dalam membagikan konten bertema “pemurnian agama” seringkali tidak dibarengi dengan kecepatan hati untuk merasa rendah hati. Kita merasa lebih “islami” hanya karena akun kita mengikuti lima akun dakwah garis keras, lalu kita merasa berhak menghakimi ibu-ibu di pasar yang tidak memakai kaus kaki saat belanja. Kita lupa bahwa esensi beragama adalah untuk memperbaiki diri sendiri, bukan untuk menjadi polisi moral digital bagi orang lain.
Fenomena ini diperparah dengan hilangnya tradisi tabayyun (klarifikasi). Kita lebih percaya pada paragraf terakhir pesan berantai yang menjanjikan pahala instan daripada mencari tahu konteks sebuah hukum Islam. Akibatnya, keberagamaan kita jadi sangat reaktif. Ada yang beda sedikit, langsung gas. Ada yang tidak sependapat, langsung blokir. Kita sedang membangun tembok tinggi di sekeliling kita, lalu komplain kenapa dunia terasa sangat sempit dan penuh kebencian.
Surga Bukan Perumahan Eksklusif
Akhirnya, surga itu bukan kompleks perumahan eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan kartu akses dari admin grup tertentu. Sebelum sibuk memagari pintu surga dari orang lain, ada baiknya kita cek dulu: apakah pintu hati kita sudah cukup luas untuk menerima perbedaan? Karena lucu saja kalau kita bercita-cita bertangga-tangga di surga nanti, tapi di dunia saja melihat orang beda cara berpakaian sudah sinis setengah mati.
Kalau akhirnya surga memang hanya berisi orang-orang yang setipe dengan kita—yang seleranya sama, bacaannya sama, dan cara marahnya sama—saya khawatir, baru dua hari di sana kita sudah bosan karena tidak ada bahan untuk didebatkan lagi. Jangan-jangan, ujian masuk surga yang sebenarnya bukanlah seberapa banyak kita membagikan pesan religius di WhatsApp, melainkan seberapa mampu kita mencintai sesama manusia yang sama sekali tidak mirip dengan kita.*rdp

