Katib Syuriyah PWNU DIY: Sinergi Syuriyah dan Tanfidziyah Penting bagi Kepemimpinan NU

Nahnutv.com Yogyakarta – Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY), KH. Mukhtar Salim, M.Ag, menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Nahdlatul Ulama membutuhkan keseimbangan antara otoritas keulamaan dan profesionalisme dalam pengelolaan organisasi.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi Tadarus Ramadan 1447 H Pertemuan Ke-2 yang mengangkat tema “Distribusi Kewenangan Syuriyah–Tanfidziyah” di Aula Kantor PWNU DIY, Selasa (3/3/2026).

Dalam forum yang dihadiri jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU DIY tersebut, Mukhtar Salim menjelaskan bahwa keberadaan dua struktur kepemimpinan—Syuriyah dan Tanfidziyah—merupakan karakter khas dalam tata kelola organisasi Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, Syuriyah memiliki fungsi utama sebagai pemegang otoritas keagamaan dan penentu arah kebijakan keulamaan, sementara Tanfidziyah menjalankan fungsi manajerial dan operasional dalam mengelola organisasi.

“Kepemimpinan Nahdlatul Ulama adalah kepemimpinan para ulama. Namun di sisi lain, organisasi sebesar NU juga membutuhkan kemampuan profesional dalam mengelola organisasi. Karena itu keberadaan Syuriyah dan Tanfidziyah menjadi penting,” ujarnya.

Ia menilai bahwa dalam praktiknya perbedaan pandangan antara kedua unsur kepemimpinan tersebut kadang terjadi di beberapa tingkatan kepengurusan. Meski demikian, hal itu lebih disebabkan oleh belum tertatanya secara detail pembagian kewenangan antara Syuriyah dan Tanfidziyah.

Menurutnya, secara normatif pembagian kewenangan tersebut sebenarnya telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama. Namun dalam implementasinya masih diperlukan penegasan yang lebih rinci agar tidak menimbulkan tafsir yang berbeda.

“Secara umum pembagian kewenangan antara Syuriyah dan Tanfidziyah di NU sebenarnya sudah cukup baik. Syuriyah lebih pada otoritas keagamaan, sementara Tanfidziyah menjalankan pengelolaan organisasi secara profesional,” jelasnya.

Mukhtar juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas kepemimpinan bagi para pengurus Syuriyah, termasuk melalui pendidikan dan pelatihan yang memberikan pemahaman mengenai peran strategis Syuriyah dalam organisasi.

Menurutnya, penguatan wawasan tersebut penting agar Syuriyah tidak terjebak pada pembahasan teknis yang seharusnya menjadi wilayah kerja Tanfidziyah, melainkan fokus pada perumusan kebijakan dan arah keulamaan organisasi.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa kesempatan pernah muncul gagasan untuk mengkaji model kepemimpinan di lembaga keagamaan lain sebagai bahan perbandingan, seperti sistem kepemimpinan di Universitas Al-Azhar.

Melalui diskusi Tadarus Ramadan ini, PWNU DIY berharap berbagai gagasan yang muncul dapat menjadi bahan refleksi sekaligus kontribusi pemikiran bagi penguatan tata kelola organisasi Nahdlatul Ulama di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *