Nahnutv.com Yogyakarta – Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY), Dr. H. Muhajir, M.Si, menyampaikan bahwa forum Tadarus Ramadan menjadi ruang penting untuk merumuskan gagasan konseptual mengenai kepemimpinan dalam tubuh Nahdlatul Ulama, khususnya terkait distribusi kewenangan antara Syuriyah dan Tanfidziyah.
Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan Tadarus Ramadan 1447 H Pertemuan Ke-2 yang mengangkat tema “Distribusi Kewenangan Syuriyah–Tanfidziyah”, Selasa (3/3/2026) di Aula Kantor PWNU DIY.
Dalam sambutannya, Muhajir menyampaikan apresiasi kepada para kiai, narasumber, serta jajaran pengurus NU yang hadir dalam forum diskusi tersebut.
“Alhamdulillah pada sore hari ini kita dapat kembali melanjutkan Tadarus Ramadan sesi kedua. Setelah pada sesi pertama menghadirkan Prof. Purwo, Prof. Maksum, dan Kiai Zuhdi yang memberikan berbagai pemikiran tentang kepemimpinan NU,” ujarnya.
Menurutnya, pada pertemuan kedua ini diskusi diarahkan secara lebih spesifik untuk menggali gagasan mengenai distribusi kewenangan antara Syuriyah dan Tanfidziyah dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama.
Muhajir menjelaskan bahwa forum ini tidak hanya membahas pembagian kewenangan secara organisatoris, tetapi juga berupaya mengeksplorasi gagasan yang lebih mendalam mengenai peran ideal lembaga Syuriyah, termasuk mekanisme pergantian kepemimpinan serta pemilihan Rais Aam dalam struktur NU.
“Kita ingin mengeksplorasi gagasan tentang Syuriyah itu idealnya seperti apa, termasuk mekanisme peralihan kepemimpinan atau pemilihan Rais Aam,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam merumuskan gagasan tersebut, diskusi juga mencoba melihat berbagai model kepemimpinan dalam lembaga keagamaan lain sebagai perbandingan, seperti sistem imamah di Iran maupun sistem kepausan dalam tradisi Katolik.
Melalui forum ini, PWNU DIY berharap dapat melahirkan gagasan konseptual yang matang untuk kemudian dirumuskan oleh tim perumus dari LAKPESDAM PWNU DIY. Hasil rumusan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
“Mudah-mudahan konsep yang akan kita tawarkan ini bisa seideal mungkin dan nantinya dapat diakomodasi di PBNU,” kata Muhajir.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber yang telah hadir dan bersedia berbagi pemikiran dalam forum tersebut.
Tadarus Ramadan PWNU DIY kali ini dilaksanakan pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa agar diskusi dapat berlangsung lebih efektif. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama sebagai bentuk kebersamaan dan penguatan ukhuwah di lingkungan Nahdlatul Ulama.

