Hikmah Puasa: Menjaga Diri dari Maksiat untuk Membersihkan Hati dan Pikiran

Nahnutv.com Yogyakarta – Dalam rangkaian Kajian Tematik Ramadan 1447 H / 2026 M yang diselenggarakan oleh PWNU DIY, KH. Sholehuddin Mansyur menyampaikan pesan penting tentang hikmah puasa yang tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana membersihkan hati dan menjernihkan pikiran.

Dalam pengantarnya, beliau mengajak para pemirsa Nahnu TV untuk merenungkan sebuah kalimat hikmah:

“Man taraka adz-dzunuba raqqa qalbuhu fayqbalu an-nashihah, wa man taraka al-haram fil ma’kul wal malbus wa ghairihima ashafat fikratuhu.”

Yang kurang lebih berarti: Barang siapa meninggalkan dosa dan kemaksiatan, maka hatinya akan menjadi lembut dan mudah menerima nasihat. Dan barang siapa meninggalkan hal-hal yang haram, baik dalam makanan, pakaian, maupun lainnya, maka pikirannya akan menjadi jernih.

Menurut beliau, puasa sejatinya melatih manusia untuk menjauhi segala bentuk larangan Allah SWT. Bahkan terhadap sesuatu yang halal sekalipun, seperti air saat berkumur ketika berwudu, orang yang berpuasa sangat berhati-hati agar tidak sampai tertelan dan membatalkan puasanya. Jika terhadap sesuatu yang halal saja seseorang mampu menahannya, maka seharusnya terhadap yang jelas-jelas haram ia lebih mampu menjauhinya.

Beliau menegaskan bahwa kemampuan menahan diri dari kemaksiatan akan berdampak besar pada kehidupan seseorang. Orang yang menjaga dirinya dari dosa—baik dosa mata, telinga, tangan, maupun hati—akan memperoleh kebeningan hati. Tanda dari hati yang bening adalah mudah menerima nasihat dan peka terhadap nilai-nilai kebaikan.

Sebaliknya, ketika seseorang terbiasa dalam kemaksiatan, hatinya akan menjadi keras dan sulit menerima kebenaran. Hal ini juga sering terjadi pada generasi muda yang terjebak dalam berbagai bentuk kemaksiatan, seperti penyalahgunaan gawai untuk mengakses konten yang tidak pantas atau terjerat berbagai godaan dunia digital. Akibatnya, mereka menjadi sulit dinasihati, malas beribadah, dan kehilangan kekhusyukan dalam salat maupun membaca Al-Qur’an.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa hati yang bersih dan pikiran yang jernih akan memudahkan seseorang membaca ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Hal-hal sederhana seperti pertumbuhan rambut, perbedaan antara laki-laki dan perempuan, pergantian siang dan malam, hingga tumbuhan yang tumbuh dengan rasa berbeda dalam satu tempat yang sama, semuanya menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Ketika seseorang mampu merenungkan tanda-tanda tersebut, maka keimanannya akan semakin kuat dan ketakwaannya semakin meningkat.

Karena itu, puasa hendaknya dijadikan momentum untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan, menjaga kehalalan makanan dan penghasilan, serta menghindari mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jika seseorang telah bersungguh-sungguh membangun amal ibadah seperti membangun tembok dengan batu bata yang tersusun rapi, maka jangan sampai amal itu runtuh karena perbuatan haram yang menyertainya.

Di akhir kajian, beliau berharap agar puasa Ramadan benar-benar menjadi sarana pembinaan diri yang mampu melembutkan hati, menjernihkan pikiran, serta mendekatkan manusia kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia.

“Semoga puasa kita menjadi puasa yang penuh berkah, yang menghantarkan kita semakin dekat kepada Allah SWT dan kepada surga-Nya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *