Alissa Wahid: kepemimpinan NU di masa depan harus mampu merespons perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar organisasi

Nahnutv.com Kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi tantangan baru di era disrupsi yang ditandai dengan digitalisasi, perubahan demografi, serta dinamika politik kebangsaan. Hal ini disampaikan oleh Alissa Wahid dalam paparannya tentang arah kepemimpinan NU di masa depan.

Menurut Alissa, perubahan demografi Indonesia membawa implikasi besar bagi organisasi keagamaan. Sejak 2020, sekitar 52,6 persen penduduk Indonesia merupakan generasi milenial dan Gen Z, kelompok yang memiliki karakter lebih rasional, mandiri, serta sangat terhubung dengan teknologi digital. Selain itu, sekitar 85 persen penduduk Indonesia telah terkoneksi dengan internet, sehingga pola komunikasi, penyebaran ideologi, serta cara masyarakat memahami agama juga ikut berubah.

Perubahan ini membuat NU perlu menyesuaikan strategi kepemimpinannya. Survei nasional menunjukkan bahwa 57,2 persen umat Islam Indonesia merasa dekat dengan NU. Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 62 persen yang memiliki hubungan struktural dengan organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan kultural dengan NU masih lebih kuat dibandingkan keterlibatan strukturalnya. Oleh karena itu, diperlukan transformasi kelembagaan agar kedekatan tersebut dapat berubah menjadi partisipasi aktif dalam organisasi.

Selain itu, warga NU secara demografis masih didominasi oleh kelompok masyarakat dengan pendidikan menengah serta kelas sosial ekonomi menengah ke bawah. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi NU untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperluas layanan bagi masyarakat.

Dalam survei yang sama juga ditemukan bahwa masyarakat berharap NU tidak hanya memberikan layanan keagamaan, tetapi juga layanan sosial yang lebih luas. Di bidang keagamaan, masyarakat membutuhkan bimbingan keluarga sakinah, fiqih muamalah terkait ekonomi dan keuangan, serta metode pendidikan anak. Sementara di luar layanan keagamaan, masyarakat berharap NU dapat memperkuat layanan ekonomi, kesehatan, pendidikan, pengelolaan zakat dan wakaf, serta advokasi hukum.

Secara kelembagaan, arah gerakan NU telah ditegaskan dalam Anggaran Dasar tahun 2022 yang menyebutkan bahwa NU merupakan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang bertujuan mewujudkan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, dan kesejahteraan umat dengan berlandaskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Visi ini menempatkan NU sebagai organisasi yang memperjuangkan keadilan sosial, kesejahteraan umat, serta menjadi rahmat bagi semesta.

Untuk mencapai visi tersebut, arah program NU periode 2022–2027 menekankan beberapa agenda penting, di antaranya penguatan transformasi Aswaja An-Nahdliyah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi warga, serta penguatan organisasi dan jaringan kelembagaan. Di samping itu, NU juga mulai mendorong transformasi digital, penguasaan teknologi, serta pengembangan layanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat.

Alissa Wahid menegaskan bahwa kepemimpinan NU di masa depan harus mampu merespons perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar organisasi. Kepemimpinan tersebut perlu dibangun di atas prinsip kepercayaan, konsistensi, kredibilitas, reputasi, dan kontribusi nyata bagi umat.

Dengan kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, serta mampu memanfaatkan teknologi dan kekuatan generasi muda, NU diharapkan tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman sekaligus terus berperan dalam menjaga harmoni sosial dan memperkuat kehidupan kebangsaan di Indonesia. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *