Lelah Jadi Gen-Z? Resep “Healing” Anti-Overthinking dari Kitab Al-Hikam

Malam beranjak larut ketika seorang adik tingkat semasa di pesantren dulu mengirim pesan panjang di WhatsApp. Isinya penuh dengan keluh kesah. Usianya baru menginjak 24 tahun, tapi beban di pundaknya seolah seberat orang berusia setengah abad.

Ia baru saja terkena layoff (PHK) dari sebuah perusahaan startup. Di saat yang sama, ia melihat teman-teman sebayanya di Instagram sedang pamer liburan ke luar negeri, sementara di LinkedIn bertebaran pengumuman promosi jabatan orang lain.

“Mas, aku burnout banget. Overthinking tiap malam mikirin masa depan. Kayaknya aku butuh healing ke Bali atau minimal staycation di gunung deh, biar nggak gila,” ketiknya, diakhiri dengan emoticon tertawa yang saya tahu persis, itu tawa keputusasaan.

Fenomena seperti adik tingkat saya ini sangat nyata. Kita sedang berada di era di mana generasi muda (Gen-Z dan Milenial) dituntut untuk sukses lebih cepat, kaya lebih awal, dan pamer lebih banyak. Akibatnya, lahir sebuah generasi yang secara fisik tampak bugar, namun secara mental sangat kelelahan.

Ketika keluhan mental health ini disampaikan kepada generasi yang lebih tua, tak jarang respons yang didapat malah membuat ciut: “Itu karena kamu kurang sholat malam!” atau “Makanya perbanyak ngaji, jangan main HP terus!” Teguran itu mungkin benar secara substansi, tapi terasa sangat menguliti bagi mereka yang sedang hancur. Agama yang seharusnya menjadi pelukan hangat, justru terasa seperti tongkat rotan yang menghakimi.

Ilusi Bernama “Healing”

Bagi anak muda hari ini, healing sering kali diartikan sebagai pelarian. Lari dari tumpukan revisi skripsi, lari dari tekanan bos di kantor, atau lari dari saldo ATM yang menipis. Caranya? Dengan ngopi di kafe mahal, jalan-jalan ke luar kota, atau maraton nonton Netflix seharian.

Sayangnya, healing model pelarian ini ibarat meminum obat pereda nyeri (analgesik) untuk penyakit patah tulang. Nyerinya mungkin hilang sesaat ketika sedang staycation menatap kabut gunung. Tapi begitu pulang ke rumah dan melihat layar laptop, tulang yang patah itu kembali berdenyut. Burnout itu kembali datang.

Mengapa? Karena masalah utamanya bukan pada letak geografis tubuh kita, melainkan pada kelelahan pikiran kita dalam mencoba mengontrol masa depan. Kita kelelahan karena kita bertindak seolah-olah kitalah “Sutradara” tunggal atas skenario hidup kita.

Resep Kemoterapi Batin dari Syekh Ibnu Athaillah

Ratusan tahun sebelum istilah stoikisme, mindfulness, atau overthinking ditemukan oleh psikolog modern, tradisi pesantren telah mewariskan sebuah “manual book” kesehatan mental yang sangat dahsyat: Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Jika Anda merasa lelah mengatur hidup yang tak kunjung sesuai harapan, cobalah meresapi Kalam Hikmah ke-4 dari kitab ini. Syekh Ibnu Athaillah dengan sangat menohok namun lembut menasihatkan:

“Arih nafsaka minat-tadbīr, famā qāma bihi ghairuka ‘anka lā taqum bihi linafsik.” (Istirahatkanlah dirimu dari kesibukan mengatur-atur urusanmu. Apa yang sudah diurus oleh Pihak Lain [Allah] untukmu, tidak perlu engkau repot-repot mengurusnya sendiri).

Kalimat pendek ini adalah tamparan sekaligus pelukan bagi penderita overthinking.

Apa yang membuat kita cemas tiap malam? Kita cemas karena kita memaksa diri memikirkan hasil akhir. Kita memikirkan “Bulan depan makan apa ya?”, “Kapan aku bisa beli rumah?”, “Jodohku siapa ya?”

Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa wilayah “hasil akhir” dan “masa depan” itu adalah wilayah Tadbir (pengaturan) milik Allah. Mengapa kita memikul beban yang bukan jatah kita? Ikan di dasar lautan yang gelap saja rezekinya sudah diatur dan diantar dengan presisi, apalagi manusia yang diberi akal dan kaki untuk berusaha.

Berhenti Menjadi Sutradara

Healing sejati ala Al-Hikam adalah proses resign (mengundurkan diri) dari jabatan “Sutradara Alam Semesta” dan kembali ke posisi asli kita: sebagai Hamba (aktor).

Tugas seorang aktor hanyalah membaca naskah hari ini dan berakting sebaik mungkin saat berada di atas panggung. Jika Anda seorang mahasiswa, ya tugas Anda hari ini adalah belajar dan merevisi skripsi. Jika Anda pencari kerja, tugas Anda hari ini adalah menyebar CV dan menambah skill. Selesai sampai di situ.

Apakah skripsinya nanti akan dipuji dosen? Apakah CV-nya nanti akan diterima HRD? Itu urusan Sutradara. Jangan mengambil alih pekerjaan Allah. Mengambil alih urusan Tuhan tidak akan membuat masa depan Anda berubah lebih baik, itu hanya akan merusak kebahagiaan Anda hari ini.

Setelah membalas pesan adik tingkat saya dengan kutipan Al-Hikam tersebut, saya menambahkan satu pesan terakhir sebelum tidur:

“Kamu nggak butuh tiket pesawat ke Bali buat healing, Dek. Kamu cuma butuh sajadah dan hati yang berserah. Tutup aplikasi LinkedIn-mu, ambil air wudhu, dan istirahatkan pikiranmu. Biarkan Tuhan yang mengambil giliran bekerja malam ini.”

Di layar HP saya, centang biru itu berubah. Lama tak ada balasan, hingga muncul sebuah pesan singkat: “Terima kasih, Mas. Aku nangis bacanya.” Terkadang, obat dari kelelahan jiwa bukanlah pergi menjauh, melainkan bersandar sepenuhnya.*rdp

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *