Yogyakarta, Nahnu TV – Ada getaran yang tidak biasa di dalam Gedung DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta siang itu, Minggu (5/7/2026). Di tengah riuh rendah kota yang dikenal sebagai rahim pendidikan ini, ratusan pasang mata tertuju pada satu panggung. Hari itu, Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) DIY resmi dilantik. Namun, alih-alih sekadar menjadi seremoni birokrasi organisasi, ruang itu mendadak menjelma menjadi episentrum refleksi ideologis yang mendalam tentang masa depan bangsa.
Di barisan depan, Fauzan SPdI MAg, melangkah dengan tatapan mantap. Usai mengucap sumpah pelantikan sebagai Ketua PW Pergunu DIY yang baru, ia berdiri di balik podium. Sorot matanya memancarkan kombinasi antara rasa tanggung jawab yang besar dan optimisme yang menyala.
“Pergunu DIY siap berkontribusi aktif dalam dunia pendidikan. Kami memikul tanggung jawab besar untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia, dan kami siap bersinergi dengan semua pihak untuk memajukan kualitas pendidikan di Yogyakarta,” ucap Fauzan, disambut anggukan takzim dari ratusan guru yang hadir. Bagi Fauzan dan pengurusnya, pelantikan ini adalah garis start dari sebuah estafet panjang yang melelahkan namun mulia.
Induk dari Segala Profesi
Suasana khidmat itu kian menebal saat Sekretaris PWNU DIY, Dr Muhajir, naik memberikan sambutan. Alih-alih memberikan pidato normatif penuh sanjungan, Dr Muhajir justru melempar sebuah pengingat yang menyentuh sanubari.

“Semoga para pengurus Pergunu istiqomah sampai akhir masa khidmat secara full team, dan semoga Pergunu dapat berkontribusi dengan baik,” tuturnya, sebuah doa yang langsung diaminkan oleh seluruh ruangan.
Dr. Muhajir kemudian menjabarkan kedudukan spiritual para guru di bawah bendera Nahdlatul Ulama. Ia mengingatkan bahwa guru bukan sekadar profesi yang mentransfer baris-baris teks dari buku ke papan tulis.
“Guru adalah induk dari segala profesi yang ada saat ini. Dan Pergunu adalah satu-satunya badan otonom yang langsung diasuh oleh dzurriyyah muassis (keturunan pendiri) NU. Pergunu adalah masa depan NU,” tegas Dr Muhajir, membuat bulu kuduk para pendidik yang hadir meremang menyadari betapa luhurnya khidmat yang mereka pilih.
Romantisme Sejarah dan Lima Resep Langit
Puncak keharuan dan siraman ilmu siang itu membuncah kala Ketua Umum PP Pergunu, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, memberikan taujihat dan arahannya. Kiai sepuh yang karismatik ini mengajak seluruh hadirin melintasi lorong waktu, menengok kembali akar sejarah berdirinya bangsa.
Dengan suara yang berwibawa, Kiai Asep mengisahkan bagaimana pesantren menjadi rahim pertama bagi perlawanan terhadap kolonialisme di nusantara.
“Upaya Rasulullah dalam penghapusan perbudakan menunjukkan bahwa perbudakan sama dengan penjajahan. Di Indonesia, pusat perlawanan terhadap penjajah itu ada di pesantren,” urai Kiai Asep.
Beliau menceritakan dengan runtut sejarah berdirinya Nahdlatul Wathan hingga akhirnya menjelma menjadi Nahdlatul Ulama. Ada dua target utama para kiai terdahulu: menegakkan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan merebut kemerdekaan Indonesia. “Belanda dahulu cemas ketika NU didirikan, karena bisa dipastikan Indonesia akan merdeka. Pergunu harus bisa melanjutkan cita-cita mulia NU tersebut,” tambahnya dengan nada bergetar.

Di sela-sela untaian sejarah itu, Kiai Asep tak lupa menyelipkan doa untuk hajat besar jam’iyah yang sudah di depan mata. “Kita doakan Muktamar NU besok lancar. NU ke depan dipimpin oleh orang-orang yang takut kepada Allah,” harapnya, diiringi gumaman doa dari para hadirin. Bagi Kiai Asep, Indonesia yang adil dan makmur hanya bisa tegak jika ditopang empat pilar: pemimpin yang adil, birokrat yang bersih, konglomerat yang loyal pada rakyat, serta situasi bangsa yang kondusif.
Sebelum mengakhiri arahannya, Kiai Asep menatap dalam-dalam wajah para guru di hadapannya. Beliau kemudian membagikan “Lima Resep Sukses” yang harus diinternalisasi oleh setiap pendidik Pergunu jika ingin menggapai keberkahan langit:
- Meningkatkan Kompetensi: Guru tidak boleh berhenti belajar; ruang kelas mereka harus dipenuhi oleh ilmu yang selalu segar.
- Bertanggung Jawab pada Kurikulum: Menuntaskan tugas mengajar kepada seluruh murid tanpa terkecuali, sebagai bentuk amanah profesional.
- Menjadi Teladan Moral: Menjadi uswatun hasanah, karena tingkah laku guru adalah kitab terbuka yang dibaca oleh muridnya setiap hari.
- Memiliki Kasih Sayang Orang Tua: Memandang dan menyayangi murid bukan sebagai objek kerja, melainkan sebagai anak kandung sendiri.
- Mendoakan Murid: Mengetuk pintu langit, menyelipkan nama anak-anak didiknya di setiap sujud dan doa-doa malam.
Menjaga Lentera Tetap Menyala
Saat acara berakhir dan lampu-lampu Gedung DPD RI mulai dipadamkan, riuh obrolan para guru masih terdengar di selasar gedung. Pelantikan hari itu telah usai, namun tugas sesungguhnya baru saja dimulai.
Para pengurus PW Pergunu DIY pulang tidak hanya membawa Surat Keputusan (SK) kepengurusan, tetapi membawa pulang api menyala di dada mereka. Sebuah komitmen untuk kembali ke madrasah, sekolah, dan pesantren masing-masing, siap mendidik generasi masa depan dengan kecerdasan intelektual, kekokohan Aswaja, dan cinta yang tak terbatas pada tanah air.*(Tibyani Mubarok/rdp)

