Pengantar
Beberapa tahun terakhir, Indonesia dan dunia menghadapi rangkaian krisis ekologis yang semakin mengkhawatirkan. Suhu ekstrem, banjir bandang, kebakaran hutan, krisis air bersih, hingga cuaca yang kian sulit diprediksi telah menjadi bagian dari keseharian manusia modern. Fenomena-fenomena ini bukan sekadar data ilmiah atau isu lingkungan semata. Dalam perspektif keimanan, semua itu merupakan tanda-tanda Tuhan yang menegur cara manusia memperlakukan bumi.
Ketika peristiwa-peristiwa tersebut hanya dipahami sebagai “musibah alam”, kita kehilangan dimensi spiritual yang lebih dalam: bahwa alam sedang mengingatkan manusia akan hukum-hukum Tuhan yang diabaikan. Al-Qur’an menyebut kondisi semacam ini sebagai rijs, sebagaimana termaktub dalam QS. Yunus ayat 100. Imam Al-Baidhowi dalam kitab tafsir Anwarut Tanzil menjelaskan:
وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ﴾ العَذابَ أوِ الخِذْلانَ فَإنَّهُ سَبَبُهُ﴿
Yang dimaksud rijs adalah azab atau kehinaan yang ditimpakan Allah, karena perbuatan mereka sendiri yang menjadi sebabnya (Tafsir Al-Baidhowi QS. Yunus 100). Tafsir ini memberi pesan teologis bahwa penderitaan kolektif, termasuk krisis ekologis, dapat menjadi konsekuensi dari sikap manusia yang tidak menggunakan akal dan tidak selaras dengan ketetapan Allah.
Namun demikian, Islam juga mengajarkan bahwa musibah tidak selalu bermakna hukuman. Dalam banyak keadaan, ia justru merupakan ujian bagi hamba-hamba yang dicintai Allah. Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ (رَوَاهُالتِّرْمِذِي التِّرْمِذِي)
Artinya: Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui musibah yang besar pula. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, baginya keridhaan Allah, dan barangsiapa yang tidak ridha, baginya kemurkaan Allah (HR. at-Tirmidzi).
Di sinilah pentingnya membedakan antara musibah sebagai ujian spiritual dan musibah sebagai konsekuensi dari kelalaian manusia terhadap hukum-hukum Allah di alam. Krisis ekologis menuntut refleksi yang lebih dalam, bukan sekadar kesabaran individual.
Dimensi Ketakwaan Ketiga: Takwa Diagonal
Dalam tradisi Islam, ketakwaan umumnya dipahami melalui dua dimensi utama. Pertama, relasi vertikal manusia dengan Allah (hablum minallah), yang terwujud dalam ibadah ritual, ketaatan, dan kedekatan spiritual. Kedua, relasi horizontal manusia dengan sesama (hablum minan nas), yang terwujud dalam keadilan sosial, etika bermasyarakat, dan solidaritas kemanusiaan, adil bernegara. Dua dimensi ini merupakan fondasi penting kehidupan beragama.
Namun, dalam menghadapi krisis ekologis abad ke-21, struktur ketakwaan tersebut belum sepenuhnya memadai. Selama berabad-abad, dua dimensi ini berjalan relatif stabil dalam ruang sosial yang terbatas. Akan tetapi, ketika kerusakan lingkungan semakin masif dan sebagian besar disebabkan oleh perilaku manusia, tampak satu celah besar: hubungan manusia dengan alam belum ditempatkan sebagai bagian eksistensial dari ketakwaan.
Alam kerap diperlakukan semata sebagai sumber daya ekonomi, bukan sebagai amanah spiritual. Padahal Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia merenungkan langit, bumi, angin, hujan, gunung, dan seluruh ekosistem sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Sayangnya, kesadaran ekologis ini sering terpisah dari praktik ibadah sehari-hari.
Di sinilah konsep Takwa Diagonal menjadi relevan untuk dipopulerkan. Jika ketakwaan vertikal menghubungkan manusia dengan Allah dan ketakwaan horizontal menghubungkan manusia dengan sesama, maka Takwa Diagonal menghubungkan manusia dengan seluruh ciptaan (hablum ma‘a al-kawn). Ia merupakan kesadaran hidup yang selaras dengan sunnatullah, hukum-hukum Allah yang mengatur alam semesta.
Disebut “diagonal” karena ia melintasi dan mengintegrasikan dua dimensi ketakwaan utama sekaligus. Takwa Diagonal bukan kategori moral baru, melainkan penyempurnaan tauhid: pengakuan bahwa Allah mengatur alam melalui hukum-hukum-Nya, dan manusia berkewajiban menyesuaikan perilakunya dengan hukum tersebut.
Takwa Diagonal sebagai Ibadah dan Implementasi Maqashidus Syariah
Takwa Diagonal menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan etis atau kepedulian sosial, melainkan kewajiban spiritual dan bagian dari ibadah. Mengurangi sampah plastik, merawat sungai, menghemat energi, menanam pohon, serta menggunakan teknologi ramah lingkungan bukan sekadar tindakan duniawi. Semua itu merupakan bentuk ubudiyyah, penghambaan kepada Allah melalui penghormatan terhadap sunnatullah.
Pandangan ini sejalan dengan kerangka besar pemikiran Imam Ghazali tentang tujuan syariat. Dalam al-Mustashfa, beliau menegaskan:
أما المصلحة فهي عبارة في الأصل عن جلب منفعة أو دفع مضرة ولسنا نعني به ذلك فإن جلب المنفعة ودفع المضرة مقاصد الخلق وصلاح الخلق في تحصيل مقاصدهم لكنا نعني بالمصلحة المحافظة على مقصود الشرع ومقصود الشرع من الخلق خمسة وهو أن يحفظ عليهم دينهم ونفسهم وعقلهم ونسلهم ومالهم فكل ما يتضمن حفظ هذه الأصول الخمسة فهو مصلحة وكل ما يفوت هذه الأصول فهو مفسدة ودفعها مصلح.
Kemaslahatan sejati bukan sekadar memenuhi kepentingan sesaat manusia, melainkan menjaga tujuan utama syariat: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dalam konteks ekologis, kerusakan lingkungan jelas mengancam kelima aspek tersebut. Karena itu, menjaga alam merupakan bagian integral dari realisasi maqashid syariah dan perwujudan ketakwaan yang utuh.
Penutup
Relevansi Takwa Diagonal semakin nyata hari ini. Kerusakan alam hampir selalu berujung pada kerusakan sosial. Ketika hutan rusak, banjir menimpa masyarakat miskin; ketika polusi meningkat, anak-anak menjadi korban pertama; ketika kekeringan meluas, konflik sumber daya tak terelakkan. Mengabaikan ketakwaan ekologis pada akhirnya meruntuhkan ketakwaan sosial itu sendiri.
Pesantren, Masjid dan lembaga keagamaan memiliki peran strategis dalam mempopulerkan Takwa Diagonal. Pengelolaan sampah yang baik, penghematan air wudhu, pemanfaatan energi terbarukan, serta gerakan menanam pohon di sekitar masjid dan madrasah merupakan bentuk ibadah diagonal yang konkret dan aplikatif. Takwa Diagonal memberi arah spiritual bagi generasi baru umat Islam. Ia mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memperlakukan bumi. Menghormati alam berarti menghormati hukum-hukum Allah; merusaknya berarti mengabaikan amanah-Nya.
Di tengah bumi yang terus mengirimkan tanda-tanda peringatan, Takwa Diagonal menawarkan kesadaran yang menyatukan langit, manusia, dan alam dalam satu garis penghambaan. Inilah saatnya umat Islam memperluas cakrawala ketakwaan: tidak hanya bersujud di masjid dan harmomis dengan manusia, tetapi juga menjaga bumi sebagai amanah ilahiah.
Wallohu A’lam, semoga bermanfaat.
Oleh: Lukman Ahmad Irfan | Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), Ketua DMI Berbah, dan Rais Syuriah NU Berbah, Sleman, DIY.

