Peringati Haul Gus Dur dan Hari Toleransi Internasional GUSDURian Bersama UIN Suka Gelar Festival Beda Setara

Nahnutv.com Yogyakarta, 11/11/2024 Dalam rangka memperingati Haul Gus Dur dan Hari Toleransi Internasional, Jaringan GUSDURian bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga menggelar Festival Beda Setara atau Best Fest. yang berlangsung dari 10 hingga 16 November 2024 mengangkat tema “Menegakan Kesetaraan untuk Kemanusiaan” dan dirancang untuk menguatkan semangat kerukunan dan toleransi antarumat beragama.

Festival ini menghadirkan rangkaian acara yang beragam, termasuk simposium kebebasan beragama dan berkeyakinan, pameran bestari, bioskop rakyat, forum belajar, hingga puncaknya yang berupa peringatan Haul ke-15 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kegiatan ini bertujuan untuk menyoroti pentingnya kesetaraan dalam kehidupan beragama dan sosial, sekaligus memperjuangkan hak konstitusi untuk berkeyakinan di Indonesia.

Acara pembukaan yang digelar pada Minggu malam (10/11) di UIN Sunan Kalijaga diawali dengan pembacaan doa oleh tokoh muda lintas iman yang mewakili berbagai agama, menunjukkan simbol persatuan dan keberagaman.

Koordinator Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan GUSDURian, Jay Akhmad, meresmikan acara tersebut bersama dengan para rektor universitas di Yogyakarta, antara lain Rektor UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi Hasan, Rektor Universitas Duta Wacana Wiyatiningsih, dan Rektor Universitas Sanata Dharma Albertus Bagus Laksana, serta sejumlah tokoh lintas iman lainnya.

Dalam sambutannya, Jay Akhmad menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh berbagai pihak, termasuk UIN Sunan Kalijaga. “Terima kasih kepada UIN Sunan Kalijaga yang telah banyak membantu kami, dan kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini,” kata Jay. Dia menegaskan bahwa Festival Beda Setara bukan sekadar perayaan kerukunan, tetapi juga langkah penting untuk penegakan hak konstitusi berkeyakinan di Indonesia. “Festival ini membahas tentang kerukunan dan penegakan hak konstitusi untuk kebebasan berkeyakinan,” tambahnya.

Salah satu program unggulan dalam festival ini adalah Forum Belajar Agama yang diadakan setiap hari Senin hingga Jumat (11-16/11/2024) dari pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. Forum ini dirancang untuk memperdalam pemahaman peserta tentang keberagaman agama dan menciptakan ruang dialog yang inklusif.

Simposium kebebasan beragama dan berkeyakinan juga akan diadakan, dihadiri oleh praktisi dari berbagai latar belakang agama. “Melalui simposium ini, kami berharap dapat mendorong pengakuan dan perlindungan hak konstitusi dalam kehidupan beragama di Indonesia,” lanjut Jay. Kegiatan pameran yang menampilkan potret kehidupan keberagaman beragama di Indonesia menjadi daya tarik lain dalam festival ini, menunjukkan wajah harmoni dan inklusivitas di masyarakat.

Puncak acara akan digelar dalam bentuk peringatan Haul ke-15 Gus Dur di Masjid UIN Sunan Kalijaga. Acara ini akan dihadiri oleh tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Alissa Wahid, serta pendakwah dan tokoh lintas agama Habib Ja’far Husain Al-Hadar. Haul ini diharapkan menjadi momen refleksi atas warisan Gus Dur dalam mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi.

Festival akan ditutup dengan acara fun walk atau jalan sehat pada 16 November 2024, simbol persatuan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat. Jalan sehat ini diharapkan menjadi ajang pertemuan dan penguatan persaudaraan di antara peserta dari berbagai latar belakang.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap kerja sama ini. “UIN Jogja telah dan terus berkomitmen untuk menjaga nilai-nilai harmoni, toleransi, dan cinta kasih antarumat beragama. Kami bangga menjadi bagian dari festival ini yang mencerminkan semangat tersebut,” ujar Noorhaidi.

Sementara itu, Wakil Rektor II Dr. Mochamad Sodik hadir mewakili PWNU DIY , Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Abdur Rozaki, dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) DIY, Ahmad Bahiej, juga hadir dalam pembukaan acara. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan dukungan pemerintah dan akademisi terhadap upaya peningkatan toleransi dan persatuan di tengah masyarakat.

Dengan tema besar “Menegakan Kesetaraan untuk Kemanusiaan,” Festival Beda Setara menjadi salah satu upaya konkrit dalam mempromosikan nilai-nilai pluralisme, dialog, dan toleransi yang diwariskan oleh Gus Dur, yang dikenal sebagai bapak pluralisme di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *