Nahnutv.com Yogyakarta — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) menggelar Podcast Ramadan yang disiarkan melalui Nahnu TV, membahas tema penentuan awal bulan Ramadan serta dinamika perbedaan metode hisab dan rukyat di Indonesia.
Podcast ini dipandu oleh Ir. Suhada dan menghadirkan narasumber Dr. Ali Imron, anggota Lembaga Falakiyah PWNU DIY sekaligus dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam pengantarnya, host menyampaikan bahwa diskusi ini digelar bertepatan dengan penghujung bulan Syakban dan menjelang masuknya Ramadan. Fenomena perbedaan awal puasa yang kembali terjadi di tengah umat Islam, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain, menjadi latar belakang pentingnya dialog dan literasi keagamaan.
“Sebagian saudara kita telah memulai puasa hari ini, sementara pemerintah dan Nahdlatul Ulama baru akan memulai esok hari. Fenomena ini menarik untuk dikaji agar masyarakat memahami duduk persoalannya secara ilmiah dan keagamaan,” ujar Ir. Suhada.
Rukyat sebagai Akar Hisab
Dalam pemaparannya, Dr. Ali Imron menjelaskan bahwa secara historis, metode penentuan awal bulan Hijriah berakar dari rukyat, sebagaimana dipraktikkan pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, data-data rukyat tersebut kemudian diolah melalui ilmu hisab sehingga melahirkan berbagai kriteria astronomis.
“Hisab tidak akan bisa bekerja tanpa basis data rukyat. Rukyat adalah sumber data awal sekaligus alat kalibrasi bagi hisab,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dalam pandangan fikih, rukyat dipahami dalam dua pendekatan. Pertama, rukyat sebagai metode untuk mengetahui keberadaan hilal, sehingga dapat digantikan oleh metode lain seperti hisab. Kedua, rukyat sebagai ibadah yang bersifat ta‘abbudi karena diperintahkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga tidak bisa digantikan.
Metode NU: Rukyat Berbasis Hisab
Dr. Ali Imron menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama menggunakan metode rukyat yang berpedoman pada hisab. Artinya, pengamatan hilal dilakukan dengan perhitungan astronomis yang matang, mulai dari posisi, ketinggian, arah, hingga waktu kemunculan hilal.
“Rukyat NU bukan rukyat tanpa perhitungan. Hisab digunakan sebagai panduan agar pengamatan tidak keliru, misalnya membedakan hilal dengan planet yang bercahaya seperti Venus,” ujarnya.
Wujudul Hilal, Imkan Rukyat, dan Kalender Global
Podcast juga membahas perbedaan kriteria penentuan awal bulan, seperti wujudul hilal, imkan rukyat, hingga Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang kini digunakan Muhammadiyah. Dr. Ali Imron menjelaskan bahwa perubahan tersebut merupakan respons atas konferensi kalender Islam internasional, termasuk yang digelar di Turki pada 2016.
Ia juga mengulas perkembangan kriteria MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) yang mengalami penyesuaian demi meningkatkan akurasi visibilitas hilal, dari kriteria lama hingga kriteria baru (Neo-MABIMS).
Pentingnya Sikap Dewasa dalam Menyikapi Perbedaan
Menutup diskusi, Dr. Ali Imron mengajak umat Islam untuk bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan penentuan awal Ramadan.
“Perbedaan memang tidak selalu nyaman, tetapi ketika secara ilmiah dan metodologis belum bisa diseragamkan, menerima perbedaan jauh lebih bijak daripada memaksakan keseragaman,” tegasnya.
Host menambahkan kutipan almarhum KH Hasyim Muzadi, bahwa “Tanggalnya sama, 1 Ramadan, hanya harinya yang berbeda,” sebagai penegasan pentingnya ukhuwah dan kebijaksanaan dalam menyikapi khilafiyah. (baba)

