Nahnutv.com Yogyakarta — Divisi Kesehatan Lingkungan Pengurus Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PW Fatayat NU DIY) mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko keracunan makanan selama bulan Ramadan. Imbauan ini disampaikan oleh Nilna Sa’adatar Rohmah dalam siaran kesehatan Ramadan di Nahnu TV.
Dalam penyampaiannya, Nilna menekankan bahwa Ramadan bukan hanya momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi waktu untuk melatih self awareness dan mindfulness agar ibadah dapat dijalani dengan tenang, khusyuk, dan bermakna. Menurutnya, kondisi tubuh yang sehat menjadi faktor penting agar umat Islam dapat menjalankan ibadah secara optimal.
“Tubuh adalah kendaraan untuk beribadah. Ketika tubuh sehat, ibadah akan terasa lebih nikmat dan khusyuk,” ujarnya.
Risiko Keracunan Makanan Saat Puasa
Nilna menjelaskan bahwa selama berpuasa, tubuh berpotensi lebih rentan terhadap infeksi dan keracunan makanan. Penurunan asupan makanan dan cairan dapat berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh, sehingga sel-sel imun tidak bekerja secara optimal. Selain itu, kondisi dehidrasi juga dapat mengurangi kemampuan tubuh melawan patogen seperti bakteri, virus, maupun toksin yang tercemar dalam makanan.
Ia menerangkan bahwa keracunan makanan dapat dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB) apabila dialami oleh dua orang atau lebih dengan gejala yang muncul dalam waktu berdekatan setelah mengonsumsi makanan yang sama. Gejala tersebut antara lain sakit perut, mual, muntah, diare, hingga kemerahan pada tubuh.
Waspada Jajanan Takjil dan Tren Viral
Menurut Nilna, kebiasaan ngabuburit dan membeli takjil secara terburu-buru menjelang berbuka puasa menjadi salah satu faktor risiko keracunan makanan. Banyak masyarakat memilih makanan berdasarkan tren atau viral di media sosial tanpa mempertimbangkan aspek keamanan pangan.
“Kadang kita membeli makanan karena sedang ramai atau viral, bukan karena kita benar-benar aman dan kuat untuk mengonsumsinya. Ini yang perlu diwaspadai,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih makanan, dengan memperhatikan kebersihan penjual, lingkungan sekitar, serta cara penyajian dan penyimpanan makanan. Makanan siap saji harus terlindung dari lalat, jauh dari sampah, dan tidak terpapar sinar matahari secara langsung terlalu lama. Untuk minuman segar seperti es buah, masyarakat diminta memastikan buah dalam kondisi segar dan air es yang digunakan aman.
Pentingnya Kebersihan dan Pengolahan Makanan
Bagi masyarakat yang memasak sendiri, Nilna mengingatkan agar bahan makanan seperti daging, ayam, dan telur dimasak hingga benar-benar matang. Selain itu, orang yang memasak atau menyajikan makanan harus dalam kondisi sehat agar tidak menjadi sumber penularan penyakit.
“Dalam satu keluarga saja, jika dua orang mengalami keracunan makanan, itu sudah masuk kategori kejadian luar biasa. Maka kebersihan dan kualitas bahan makanan harus benar-benar dijaga,” tegasnya.
Langkah Penanganan Keracunan Makanan
Apabila terjadi dugaan keracunan makanan, Nilna mengimbau masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis ke puskesmas atau rumah sakit terdekat, tanpa menunggu gejala semakin parah. Selain itu, kejadian tersebut perlu dilaporkan kepada tenaga kesehatan agar dapat dilakukan penelusuran epidemiologis untuk mencegah kasus serupa terulang.
Menutup penyampaiannya, Nilna mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum meningkatkan ketakwaan tanpa mengabaikan kesehatan.
“Fastabiqul khairat harus dibarengi dengan menjaga kesehatan. Dengan tubuh yang sehat, kita bisa beribadah dengan lebih khusyuk dan tenang,” pungkasnya. (baba)

