Dr. Hilmy Muhammad: Pergunu Harus Kedepankan Pendekatan Dialogis dan Perjuangkan Kesejahteraan Guru

Nahnutv.com Yogyakarta — Katib Syuriah PBNU yang juga Anggota DPD RI Dapil DIY, Dr. Hilmy Muhammad, M.A., secara resmi membuka Konferensi Wilayah III Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Gus Hilmy—sapaan akrabnya—menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya konferensi tersebut. Ia berharap forum permusyawaratan tertinggi Pergunu di tingkat wilayah itu dapat menghasilkan keputusan-keputusan strategis demi penguatan organisasi dan peningkatan kualitas guru di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ia juga mengapresiasi Pergunu DIY yang memanfaatkan kantor PWNU sebagai ruang aktivitas organisasi. Menurutnya, kantor PWNU merupakan rumah bersama seluruh badan otonom dan lembaga NU sehingga harus dimaksimalkan sebagai pusat konsolidasi dan penguatan program.

Dalam pidatonya, Gus Hilmy menegaskan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini semakin kompleks. Ia menyinggung fenomena krisis psikologis pada anak, termasuk kasus tragis seorang siswa sekolah dasar yang mengakhiri hidupnya. Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi alarm keras bagi seluruh organisasi profesi guru.

“Kesalahan murid sejatinya adalah kesempatan bagi guru untuk membimbing. Pendekatan kekerasan sudah tidak relevan. Yang dibutuhkan adalah hiwar, dialog, dan pendekatan persuasif,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa guru harus menjadi teladan yang layak digugu dan ditiru. Keteladanan personal menjadi kunci dalam membangun karakter peserta didik. Pendidikan, lanjutnya, tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus membentuk generasi berakhlak, seimbang, dan berkarakter kuat.

Selain persoalan pedagogis, Gus Hilmy juga menyoroti isu kesejahteraan guru. Ia mengakui bahwa secara struktural masih banyak persoalan yang perlu diperjuangkan, baik terkait pengakuan profesi maupun peningkatan kesejahteraan.

Menurutnya, Pergunu ke depan harus memainkan peran advokatif yang lebih kuat melalui dialog dengan pemerintah dan berbagai pemangku kebijakan. Peningkatan kualitas guru harus berjalan beriringan dengan perjuangan kesejahteraan yang layak.

Ia juga mendorong sinergi yang lebih erat antara Pergunu, LP Ma’arif, serta struktur NU di berbagai tingkatan. Jika hendak mendirikan atau mengembangkan lembaga pendidikan seperti SDNU atau SMPNU, maka harus dirancang dengan standar mutu yang jelas dan visi yang kuat, sehingga benar-benar menjadi kebanggaan warga Nahdliyin.

“Jangan sekadar menambah lembaga. Jika mendirikan, harus berkualitas dan menjadi model,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Gus Hilmy menegaskan bahwa Konferensi Wilayah bukanlah akhir dari proses organisasi, melainkan awal untuk memperluas ruang kerja, konsolidasi, dan pengabdian Pergunu dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *