Nahnutv.com Yogyakarta — Sekretaris PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. H. Muhajir, M.Si., mewakili Ketua PWNU DIY dalam pembukaan Konferensi Wilayah III Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DIY.
Dalam sambutannya, Muhajir menyampaikan permohonan maaf karena Ketua PWNU DIY tidak dapat hadir secara langsung lantaran menghadiri agenda Rakornas PBNU-PWNU di Malang. Ia menjelaskan bahwa padatnya agenda kepengurusan membuat dirinya ditugaskan untuk mewakili secara resmi PWNU DIY dalam forum tersebut.
“Atas nama PWNU DIY, kami mengucapkan selamat atas terselenggaranya Konferensi Wilayah III Pergunu DIY. Semoga ini menjadi titik tolak untuk semakin menguatkan khidmah kita di Jam’iyah Nahdlatul Ulama, khususnya di bidang pendidikan,” ujarnya.
Muhajir menegaskan bahwa guru merupakan “induk dari seluruh profesi”. Karena itu, kualitas guru akan sangat menentukan kualitas generasi dan kehidupan sosial secara luas. Ia mengutip kaidah bahwa ketika guru baik, maka banyak aspek kehidupan lainnya akan turut membaik.
Ia kemudian mengulas makna filosofis istilah guru dalam khazanah bahasa Arab. Kata mudarris, menurutnya, berasal dari akar kata dars yang berarti pelajaran. Artinya, seorang guru bukan hanya mengajar, tetapi juga terus belajar dan mampu mengambil ibrah dari setiap peristiwa.
“Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan konseptual, tetapi juga harus mampu menghadirkan pelajaran hidup di balik setiap materi yang diajarkan,” jelasnya.
Ia mencontohkan bagaimana pelajaran matematika bukan sekadar soal rumus, tetapi mengandung pesan kehidupan: menyelesaikan hal yang paling kompleks terlebih dahulu agar persoalan lain yang lebih ringan ikut terselesaikan. Jika guru hanya berhenti pada aspek konseptual, maka esensi pendidikan akan hilang.
Muhajir juga menjelaskan istilah mu’allim, yang berkaitan dengan kata ‘alim. Seorang alim, katanya, bukan sekadar orang berpengetahuan, tetapi orang yang mampu membaca tanda-tanda kehidupan (alamat). Dengan demikian, guru sejatinya adalah sosok yang mampu memahami dan mengajarkan makna di balik berbagai peristiwa kehidupan.
Dalam konteks era digital, ia mengingatkan agar guru tidak sekadar menjadi konsumen produk digitalisasi, tetapi memiliki pola pikir digital (digital mindset). Tantangan teknologi tidak boleh membuat guru inferior, sebab profesi guru tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi.
“Teknologi hanya alat. Yang tidak tergantikan adalah sentuhan, keteladanan, dan makna yang diberikan guru,” tegasnya.
Ia juga membedakan antara instrumental knowledge dan essential knowledge. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada aspek instrumental—sekadar hafalan atau rumusan teknis—tetapi harus menyentuh aspek esensial yang membangun cara pandang dan kesadaran hidup.
Di bagian akhir sambutannya, Muhajir menyampaikan refleksi kritis. Ia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada rumusan baku mengenai profil lembaga pendidikan NU yang berkarakter Aswaja secara komprehensif. Karena itu, ia mendorong Pergunu untuk mulai merumuskan profil ideal “Guru NU”.
“Jangan sampai nanti orang bertanya, seperti apa profil guru NU itu? Maka sebelum ditanya, sebaiknya kita rumuskan lebih dulu. Apakah cukup dengan kompetensi pedagogik dan manajerial? Atau perlu konsep yang lebih khas?” ujarnya.
Ia bahkan mengusulkan gagasan “Guru Maslahah” sebagai konsep alternatif—guru yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan sosial melalui peran pendidikannya.
Mengakhiri sambutannya, Muhajir berharap Konferensi Wilayah III Pergunu DIY tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan gagasan strategis untuk peningkatan mutu pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Semoga hasil konverwil ini membawa maslahat, bukan hanya menambah jumlah anggota, tetapi benar-benar meningkatkan kualitas pendidikan NU,” pungkasnya. (baba)

