Nahnutv.com, Yogyakarta, 8/10/2024 – Simposium Pesantren 2024 dengan tema “Strategi Penguatan Pesantren Sebagai Pilar Masa Depan Indonesia” acara ini kerjasama antara Kemenag RI, PBNU dan UGM berlangsung hari ini di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan ini dihadiri oleh akademisi, praktisi pesantren, serta perwakilan pemerintah untuk membahas isu-isu strategis dalam pengembangan pesantren.

Pesantren telah lama menjadi bagian penting dari pendidikan dan sosial di Indonesia, menaungi sekitar 58 persen populasi Muslim. Dengan lebih dari 41 ribu pesantren dan 12 juta santri, keberadaan pesantren sangat relevan dalam membentuk karakter dan nilai-nilai masyarakat. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 semakin menegaskan peran strategis pesantren dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Hadir melalui video, dekan FISIPOL UGM, Dr. Wawan Mas’udi, S.IP., MPA menyapikan menyadari tantangan pesantren sangat besar , iklim perubahan, persoalan soalan, masa depan keberagaman dan keberagaman, bagaimana menjadikan generasi muda, pesantren menjadi penting, pesantrean memainkan secara global, dengan modal tradisi, melakukan tranformasi, metode dakwah kekinian relevan, sehingga terasa sampai ke masyarakat, menjadi bagian upaya pembangunan berkelanjutan, ajaran agama dengan agenda global, perkembangan teknologi,

Hadir Kementerian Agama Republik Indonesia diwakili oleh Kepala Kantor Kementerian Agama DIY, Dr. Ahmad Bahiej, M.Hum. Beliau menyampaikan permohonan maaf karena Menteri Agama tidak dapat hadir karena sedang ada serah terima penghargaan sebagai mentri yang memberikan inspirasi dalam pelayanan prima dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia.
Baca juga: Dekan FISIPOL UGM Bicara Tantangan dan Peran Pesantren dalam Simposium Pesantren 2024
Dr. Ahmad Bahiej Dalam sambutannya, beliau menggarisbawahi pentingnya pesantren sebagai lembaga profesional yang telah lama berdiri dan memiliki peran strategis dalam membentuk jiwa kepemimpinan dan karakter bangsa.
“Pesantren tidak hanya berfokus pada pendidikan agama, tetapi juga membekali santri dengan ilmu pengetahuan yang relevan untuk kehidupan bermasyarakat di era tantangan zaman saat ini,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya disiplin dan praktik riyaḍoh sederhana sebagai bagian dari pembentukan karakter santri.
Beliau juga mengungkapkan bahwa banyak pondok pesantren yang telah berhasil mengembangkan wirausaha dan ekonomi kreatif, menunjukkan potensi kemandirian ekonomi yang dimiliki pesantren. Namun, Dr. Bahiej menekankan perlunya peningkatan kualitas tenaga pendidik untuk memperkuat sistem pendidikan di pesantren.
“Sinergi antara pesantren, pemerintah, dan pendidikan tinggi sangat penting untuk mendukung pengembangan ini. Dukungan dari elemen masyarakat juga diperlukan agar pesantren dapat berkontribusi lebih besar dalam pembangunan bangsa,” katanya.

Dr. (H.C.) K.H. Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, mengungkapkan kebanggaannya sebagai alumni FISIPOL UGM. Ia mengingat kembali masa lalu saat sering terlibat dalam plesetan, yang ia anggap memiliki makna penting dalam konteks sosial. Menurutnya, plesetan adalah bentuk sindiran yang mencerminkan realitas masyarakat tanpa perlu dipikirkan secara mendalam.
Gus Yahya menekankan bahwa pesantren telah mengalami metamorfosis yang signifikan dan merupakan lembaga yang mencerminkan akar tradisi serta produk dari peradaban kuno. Ia menjelaskan bagaimana pesantren dapat beradaptasi dan bertahan dalam berbagai tantangan, termasuk tradisi, struktur sosial, dan politik yang ada.
“Pesantren harus mampu bertransformasi dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkapasitas. Dulu, kita mengenal banyak tokoh kiai yang menjadi panutan,” ujarnya. Gus Yahya juga menyoroti pentingnya integrasi antara pengetahuan akademis dan spiritual yang menjadi ciri khas pesantren.

Ia mengingatkan bahwa tantangan modern memerlukan perubahan dalam pendekatan pesantren. “Kita tidak bisa lagi berpegang pada mitos, tetapi harus berbasis pada fakta dan realitas di masyarakat,” tambahnya. Dalam konteks ini, Gus Yahya menekankan pentingnya kolaborasi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan dampak yang lebih besar.
Acara kemudian dilanjutkan sesi Diskusi, dalam simposium ini dibagi menjadi beberapa topik utama, termasuk reorientasi konsep pendidikan dan pengasuhan pesantren, peranan dakwah di era disrupsi informasi, penggerak perekonomian dan konservasi lingkungan, strategi transformasi digital, serta mewujudkan pesantren yang bersih dan sehat.
Sebagai output dari kegiatan ini, diharapkan dihasilkan Policy Brief dari lima pilar yang dapat menjadi referensi bagi pemangku kebijakan dan praktisi pesantren. Simposium ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi dan inovasi dalam pengembangan pesantren, sehingga dapat berkontribusi lebih besar bagi kemajuan Indonesia.

