Nahnutv.com Bantul – Ketua PWNU DIY, Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum., memberikan arahan strategis dalam acara Harlah NU ke-103 H / 100 M PCNU Bantul yang dirangkaikan dengan launching KBIHU NU Bantul. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pembentukan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) NU Bantul harus dikelola secara profesional, ideologis, dan berbasis tata kelola yang baik (good governance).
Di hadapan jajaran PCNU Bantul, para kiai, pengurus MWCNU, badan otonom, serta tamu undangan, Kiai Zuhdi menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan kesungguhan PCNU Bantul dalam menghadirkan program baru yang dinilai strategis dan potensial memberikan manfaat luas bagi warga Nahdliyin.
“Ini langkah yang sangat baik. SDM Bantul luar biasa, banyak yang memiliki kompetensi dan sertifikasi di bidang perhajian. Tinggal bagaimana institusi ini dikelola dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Menurutnya, KBIHU NU bukan sekadar lembaga teknis pendampingan manasik, tetapi juga instrumen ideologisasi dan internalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Melalui KBIHU, nilai-nilai keagamaan, tata cara ibadah yang benar, serta tradisi para kiai dapat ditransmisikan secara sistematis kepada jamaah.
Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa tantangan utama bukan hanya pada aspek ideologis, melainkan pada tata kelola kelembagaan. Prinsip good governance harus menjadi fondasi, meliputi transparansi, akuntabilitas, kredibilitas, dan partisipasi kolektif.
“Organisasi jangan sampai diprivatisasi. Ini milik jam’iyah, bukan milik pribadi. Jangan sampai lembaga yang dibentuk atas nama NU, kemudian dikelola seperti usaha personal,” tegasnya.
Ia mencontohkan pengalaman pengelolaan yayasan di lingkungan NU yang harus dipisahkan secara tegas antara aset organisasi dan badan hukum yayasan, agar tidak terjadi tumpang tindih kepemilikan maupun konflik kepentingan di kemudian hari. Sejak awal, menurutnya, aspek legalitas dan manajemen harus dirancang dengan rapi agar keberlangsungan organisasi tetap terjaga.
Kiai Zuhdi juga menyoroti tantangan riil yang dihadapi KBIHU NU Bantul. Dari sekitar 1.000 lebih jamaah haji Bantul setiap tahun, warga NU yang mengikuti bimbingan melalui KBIHU NU masih relatif kecil. Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kualitas pelayanan dan penguatan kepercayaan publik.
“Kalau khidmah dan pelayanan kita baik, profesional, dan memuaskan, orang akan datang sendiri. Tantangannya bukan sekadar jumlah, tetapi bagaimana kita menjaga mutu layanan,” ungkapnya.
Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan KBIHU NU tidak cukup hanya dengan struktur organisasi yang kuat, tetapi juga membutuhkan kepemimpinan yang kolektif dan berorientasi pada kepentingan jam’iyah. Kepemimpinan harus menjunjung prinsip kebersamaan, bukan kepentingan kelompok atau individu.
Mengakhiri arahannya, Ketua PWNU DIY berharap KBIHU NU Bantul dapat menjadi model pengelolaan lembaga berbasis NU yang profesional, akuntabel, serta tetap berakar pada nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.
“Mudah-mudahan ini menjadi langkah awal yang baik, lancar, dan membawa manfaat serta keberkahan bagi warga NU dan masyarakat Bantul secara umum,” pungkasnya. (baba)

