Refleksi 100 Tahun NU, Dr. Hilmy Muhammad: NU Harus Relevan, Profesional, dan Berorientasi Khidmah

Nahnutv.com Bantul – Anggota DPD RI Dapil DIY sekaligus Katib Syuriah PBNU, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., menyampaikan orasi kebangsaan dalam rangka Harlah NU ke-103 Hijriah / 100 Tahun Masehi yang diselenggarakan PCNU Bantul. Dalam momentum mujahadah dan peringatan satu abad NU tersebut, ia menegaskan bahwa keberlangsungan NU ke depan sangat ditentukan oleh relevansi, profesionalitas, dan kesungguhan dalam berkhidmah.

Di hadapan jajaran pengurus cabang dan MWCNU, badan otonom, unsur legislatif, serta pemerintah daerah, Gus Hilmy—sapaan akrabnya—mengajak seluruh Nahdliyin untuk melakukan tafakur dan tasyakur atas usia satu abad Nahdlatul Ulama.

“Kalau NU ingin hidup bukan hanya 100 tahun, tetapi ilaa yaumil akhir, maka NU harus punya kepentingan. Karena NU hidup, maka NU harus berkepentingan,” tegasnya.

Menurutnya, kepentingan NU bukanlah kepentingan pragmatis, melainkan kepentingan ideologis dan kebangsaan: menyebarkan Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara, menjaga NKRI, mengupayakan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta turut menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia.

Ia mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya, NU tidak semata-mata bergerak dalam ranah keagamaan, tetapi juga memiliki wadifah wathaniyah (tanggung jawab kebangsaan). Urusan agama dan kenegaraan, menurutnya, merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam sejarah perjuangan para muassis.

Lebih lanjut, Gus Hilmy menekankan bahwa agar tetap eksis dan mampu bertahan, NU harus terus relevan (shalihun likulli zaman wa makan). Relevansi itu diwujudkan melalui layanan konkret kepada umat, bukan sekadar simbol atau identitas.

Menanggapi peluncuran KBIHU NU Bantul, ia mengingatkan bahwa persaingan bukan lagi soal nama atau bendera, melainkan kualitas pelayanan.

“Jangan hanya menjual gendera. Yang harus dijual adalah khidmah dan pelayanan yang profesional. Kalau pelayanan baik, orang akan datang sendiri,” ujarnya.

Hal yang sama berlaku bagi lembaga pendidikan Ma’arif, klinik, ambulans, hingga unit usaha. Semua harus dikelola secara profesional, akuntabel, dan bertanggung jawab agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

Ia juga mendorong transformasi digital dalam pengelolaan program NU. Pengumpulan koin, pengelolaan usaha, hingga dakwah perlu memanfaatkan teknologi seperti sistem digital dan platform media sosial agar lebih efektif dan menjangkau generasi muda.

“Kalau hari ini kita masih berjalan dengan cara lama, sementara umat sudah berubah, maka kita bisa kehilangan relevansi,” ungkapnya.

Dalam konteks pengembangan gagasan, Gus Hilmy mencontohkan inisiatif penyusunan Fikih Penyandang Disabilitas Mental Psikososial bersama LBM PBNU. Menurutnya, terobosan-terobosan intelektual seperti itu menunjukkan bahwa NU responsif terhadap problem aktual masyarakat.

Ia juga mendorong NU di daerah untuk mengembangkan program-program strategis seperti bimbingan belajar, pelatihan media sosial, penguatan literasi kitab, hingga konten dakwah kreatif yang dapat menjangkau generasi muda.

Menutup orasinya, Gus Hilmy menegaskan pentingnya persatuan internal (sinergi) dan kerja sama eksternal (kolaborasi). Sinergi dibangun antarstruktur dan badan otonom NU, sedangkan kolaborasi diperluas dengan pemerintah, aparat, dan berbagai elemen masyarakat.

“Al-mar’u qalilun binafsihi katsirun bi ghairihi. Kita ini kecil kalau sendirian, tetapi menjadi besar ketika bersama,” pesannya.

Momentum satu abad NU, menurutnya, harus menjadi penguat tekad untuk melanjutkan visi para pendiri: menjaga kemerdekaan bangsa dan menyebarkan Ahlussunnah wal Jamaah ke seluruh pelosok Nusantara.

“Mumpung kesempatan terbuka lebar, mumpung kita punya banyak kader, mari kita kuatkan sinergi dan kolaborasi. NU harus terus hidup, relevan, dan memberi manfaat,” pungkasnya. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *