Pesantren Tidak Hanya Mencetak Kyai Tapi Mencetak Tokoh di Berbagai Bidang

Nahnutv.com – Pada zaman sekarang ini, kalau ada orang tua mau memondokkan anaknya, ada beberapa pertanyaan yang mengemuka. Anak saya di Pesantren selain pelajaran agama, dibekali pelajaran apa. Kalau sudah keluar dari pondok bisa kerja apa. Bisa melamar di instansi mana. Dan pertanyaan senada lainnya.

Adalah Kyai Wahid Hasyim, kakek dari Mbk Alisa Wahid, sang pembaharu kurikulum pesantren pada zamannya. Beliau pada tahun 1935 mendirikan Madrasah Nidhamiyah di Pesantren Tebuireng Jombang. Sebuah lembaga yg tidak hanya mengajarkan tentang agama tetapi juga pelajaran umum. Awalnya ide itu ditentang oleh ayahnya: KH. M. Hasyim Asy’ari. Tapi kemudian diizinkan. Kyai Wahid beralasan: “Tidak semua santri ketika pulang akan menjadi kyai. Maka perlu dibekali ilmu2 umum, agar tetap punya daya manfaat di masyarakat dg ilmunya itu.” Ide itu dianggap “bid’ah sayyiah” di kakangan Kyai dan komunitas pondok pesantren saat itu. Pada awal pembukaannya, diantara ribuan santri Tebuireng, yang ikut program Madrasah Nidhamiyah hanya puluhan santri. Dalam perjalanannya gagasan Kyai Wahid yg sangat visioner itu, telah mengangkat status Pondok Pesantren Tebuireng, bukan hanya melahirkan calon kyai yg sangat fasih bicara agama tapi juga mampu bicara tentang masalah non agama yg sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Kyai Wahid Hasyim, salah satu Kyai Pesantren yg multi talenta. Beliau tidak hanya menguasai bidang ilmu agama atau khazanah keilmuan Pesantren dengan sangat baik, tapi juga menguasai berbagai bidang keilmuan yg lain. Beliau menguasai beberapa bahasa. Beliu mahir dalam bahasa Arab, Inggris, dan Belanda. Karena itulah peran yg beliau berikan bagi perjalanan bangsa Indonesia sungguh luar biasa. Beliau salah satu dari sembilan tokoh perumus Pancasila. Meski hanya alumni pesantren, kemampuan beliau tidak kalah dg tokoh2 lain yang alumni sekolah kolonial. Maka tidaklah berlebihan, ketika Kyai Bisri Mustofa, menulis kitab kecil dibidang akhlak: Ngudi Susilo dengan ungkapan:

Wahid Hasyim santri pondok ra sekolah #
Dadi Mentri karo liyan ora kalah.

Dalam konteks sekarang, agar tetap menjadi pilihan bagi calon wali santri/siswa, Pesantren tidak cukup hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga ilmu lain yg bisa menjadi modal dan kapital bagi santri saat sudah terjun di tengah-tengah masyarakat. Untuk melanggengkan fungsi dan relevansinya, Pesantren harus terus ramah dan bersahabat dengan sains dan teknologi. Tanpa itu, pesantren hanya akan dipandang sebagai lembaga yang kolot, ketinggalan zaman, dan konservatif. Dalam pengertian ini, maka Pesantren membutuhkan peran kyai2 progresif yang protagonis terhadap temuan-temuan teknologi. Bukan kyai-kyai yang alergi dan tdk ramah terhadap modernisasi dan perkembangan zaman. Bersikap ramah terhadap digitalisasi umpamanya, merupakan satu dari sekian jawaban agar Pesantren tetap mapan dan relevan sebagai lembaga pendidikan di masa depan. Lebih dari itu, kemampuan Pesantren untuk memberikan kepastian kepada anak didik dari potensi menjadi korban dalam bentuk apapun harus menjadi ikhtiar bersama. Inisiatif RMI PWNU DIY, sebagai asosiasi pondok-pondok Pesantren dengan mengusung tema: Pesantren Maju Bersama dengan Rahmah dan Amanah menjadi sebuah keniscayaan. Semoga.
(Disarikan dari materi Mbk Alisa Wahid, Damparan: 16/08/2025).

RMI Damparan di Pandanaran
Suasana hangat pnh kebahagiaan
Para santri calon pemimpin ms depan
Penerus para Kyai d Cendikiawan

Di Jawa Barat ada kota Cianjur
Kota yang lain namanya Cimahi
Kita semua hrs merasa bersyukur
Bisa bergabung dg para Nyai d Kyai

Bertamasya ke gunung merapi
Janganlah lupa membeli jadah
Kt semua merasa bangga dg RMI
Smg Pesantren brtambh berkah

17 Agsts HUT kemerdekaan kita
Merah putih berkibar di mana2
Kt serius membangun kerja sama
Utk kejayaan Pesantren kt semua

(Tompeyan: 16/08/2025) Kiai Edy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *