Ketua PWNU DIY: Budaya adalah Jalan Dakwah NU yang Paling Membumi

Nahnutv.com Yogyakarta — Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa pendekatan budaya merupakan strategi dakwah paling khas dan paling membumi yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU). Hal tersebut disampaikannya saat membuka secara resmi Islamic Book & Culture Festival (IBCF) 2026 yang digelar di The Ratan Yogyakarta, Jalan Ringroad Selatan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Selasa (27/1/2026).

Menurut Kiai Zuhdi, penyelenggaraan IBCF 2026 tidak hanya menjadi ajang literasi dan kebudayaan Islam, tetapi juga memiliki makna historis yang sangat penting karena merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama versi kalender Masehi. Ia mengapresiasi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU yang telah menginisiasi festival tersebut dengan melibatkan puluhan penerbit dan berbagai elemen kebudayaan.

“Alhamdulillah, malam hari ini Lesbumi mampu menginisiasi kegiatan yang sangat bagus, dalam rangka memperingati 100 tahun lahirnya NU di dunia versi Masehi,” ujar Kiai Zuhdi dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa kelahiran NU tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial, ekonomi, dan global pada masanya. NU lahir dari keprihatinan para kiai terhadap kondisi ekonomi umat yang terpuruk akibat penjajahan, sehingga memunculkan gerakan Nahdlatut Tujjar sebagai upaya membangkitkan kemandirian ekonomi umat. Selain itu, kebodohan yang meluas akibat kolonialisme melahirkan inisiatif Taswirul Afkar sebagai ruang pencerdasan umat.

Di sisi lain, NU juga lahir dari kegelisahan para ulama terhadap persoalan akidah umat yang kerap disalahpahami, disesatkan, bahkan dikafirkan, meskipun praktik keislaman yang dijalankan bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Dalam konteks itulah, para kiai menggagas Komite Hijaz untuk menjaga otoritas keilmuan dan tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah.

“NU didirikan bukan hanya untuk menyelamatkan umat, tetapi juga untuk menyelamatkan bangsa. Saat itu dunia sedang berada dalam suasana Perang Dunia Pertama, dan para kiai memiliki kesadaran global untuk menjaga Nusantara,” tegasnya.

Kiai Zuhdi menekankan bahwa NU sejak awal merupakan jam’iyah diniyah yang fokus pada pendidikan, pembinaan akidah, dan akhlak umat, sekaligus jam’iyah ijtima’iyah yang bergerak dalam ranah sosial dan kesejahteraan masyarakat. Dua mandat inilah yang terus diemban NU hingga saat ini.

Dalam konteks dakwah, NU memilih jalan budaya sebagai pendekatan utama. Menurutnya, budaya bukanlah lawan agama, melainkan media dakwah yang efektif, sejuk, dan mudah diterima masyarakat. Karena itulah Lesbumi tumbuh subur sebagai ruang kreativitas dakwah kultural NU.

“Budaya tidak kita jadikan kompetitor agama, tetapi justru kita jadikan media dakwah. Inilah karakter NU, dan inilah yang membuat Lesbumi sangat kreatif dan relevan,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kelompok seni KiaiKanjeng yang dinilainya konsisten menjadikan seni dan budaya sebagai sarana dakwah Islam yang berkarakter, teduh, dan penuh pesan kebangsaan.

Menutup sambutannya, Kiai Zuhdi secara resmi membuka IBCF 2026 dengan mengajak seluruh hadirin membaca Surah Al-Fatihah, kemudian menandai pembukaan acara dengan ketukan sebanyak sembilan kali, sebagai simbol sembilan bintang NU.

“Dengan ketukan sembilan kali ini, Islamic Book & Culture Festival 2026 secara resmi saya nyatakan dibuka,” pungkasnya.

Festival IBCF 2026 sendiri diikuti oleh sekitar 70 penerbit anggota IKAPI, melibatkan berbagai komunitas budaya, serta menjadi ruang kolaborasi dakwah, literasi, dan kebudayaan Islam dalam rangka menyemarakkan satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama di tingkat global. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *