Ketua PWNU DIY: Dunia, Bangsa, dan NU Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Persatuan Jadi Kunci

Nahnutv.com Yogyakarta – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH Ahmad Zuhdi Muhdlor, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi global, nasional, serta dinamika internal jam’iyah Nahdlatul Ulama sepanjang tahun 2025. Hal tersebut disampaikan dalam pernyataan akhir tahun yang ditayangkan melalui Nahnu TV.

Menurutnya, dunia saat ini masih dibayangi konflik berkepanjangan di berbagai wilayah seperti Ukraina, Sudan, dan Somalia, serta penjajahan Israel atas Palestina yang didukung Amerika Serikat. Situasi geopolitik global tersebut dinilai akan terus memengaruhi stabilitas dunia dan membawa dampak kemanusiaan yang luas.

“Konflik-konflik global ini belum jelas kapan berakhir dan berpotensi mengubah peta geopolitik dunia. Kondisi ini tentu sangat tidak menguntungkan dan menghadirkan penderitaan bagi umat manusia,” ujarnya.

Di tingkat nasional, KH Ahmad Zuhdi menyoroti tantangan serius yang dihadapi Indonesia, terutama melemahnya nilai persatuan dan nasionalisme. Ia menyebut munculnya kembali semangat separatisme di Papua, Aceh, dan sejumlah wilayah lain sebagai ujian berat bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain itu, bangsa Indonesia juga tengah menghadapi disrupsi sosial akibat perkembangan teknologi informasi dan perubahan sistem ekonomi modern. Hal tersebut dinilai turut mengubah karakter masyarakat Indonesia yang selama ini dikenal ramah dan menjunjung tinggi semangat gotong royong.

Dalam konteks kehidupan beragama, ia menilai relasi antarumat Islam sebenarnya semakin matang, terutama di kalangan generasi muda. Namun, provokasi dan adu domba dari pihak-pihak tertentu masih sering memicu ketegangan internal umat. Ia juga mengingatkan masih adanya gejala radikalisme dan populisme keagamaan yang menyasar generasi muda.

“Perbedaan dalam memahami ajaran agama adalah rahmat. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan itu dipolitisasi dan dijadikan alat untuk memusuhi pihak lain,” tegasnya.

KH Ahmad Zuhdi juga menilai konsep Tri Kerukunan—kerukunan internal umat beragama, kerukunan antarumat beragama, dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah—masih sangat relevan untuk kembali digelorakan. Ia mendorong pemerintah untuk menghidupkan kembali kebijakan tersebut demi menjaga persatuan nasional.

Terkait internal Nahdlatul Ulama, ia menyampaikan bahwa NU sejatinya telah menunjukkan peran global melalui berbagai inisiatif perdamaian, termasuk forum R20. Namun, dinamika internal di tubuh PBNU sempat menjadi keprihatinan bersama warga NU.

“Alhamdulillah, melalui bimbingan para masyayikh dan sesepuh NU, islah telah tercapai. Ini menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi warga NU di akar rumput,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa NU harus kembali bersatu, tidak hanya sebagai perkumpulan, tetapi sebagai barisan yang solid untuk menghadapi tantangan masa depan.

“NU harus terus hadir memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara. Persatuan adalah kunci agar NU tetap relevan di abad keduanya,” pungkasnya. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *