KH. Jadul Maula: Satu Abad NU adalah Perjalanan Identitas yang Terjaga dan Terbuka

Nahnutv.com Yogyakarta – Ketua Lesbumi PBNU, KH. Jadul Maula, menutup rangkaian peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama versi Miladiyah yang digelar selama lima hari oleh Lesbumi PWNU DIY dengan penuh rasa syukur dan refleksi mendalam. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh panitia, pengurus Lesbumi PWNU DIY, lembaga, dan badan otonom yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, rangkaian acara yang berlangsung sejak 27 Januari hingga 2 Februari itu merupakan inisiatif luar biasa. Ia bahkan menyebutnya sebagai rekor tersendiri, karena belum banyak peringatan satu abad NU di berbagai daerah yang diselenggarakan secara maraton selama lima hari penuh dengan ragam kegiatan kebudayaan, literasi, dan ekspresi seni.

“Satu abad NU ini bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi gambaran perjalanan panjang bagaimana identitas santri dijaga sekaligus dibuka untuk berdialog dengan zaman,” ungkapnya.

KH. Jadul Maula mengajak hadirin menengok kembali situasi tahun 1926 saat NU berdiri. Pada masa itu, komunitas santri hidup dalam keterbatasan akses literasi modern. Kitab kuning dan tradisi pesantren menjadi pusat pembelajaran, sementara pengaruh kolonial dan budaya luar menjadi tantangan tersendiri. Ia mencontohkan bagaimana Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menjaga identitas kesantrian dengan sangat kuat, bahkan dalam hal-hal yang kini dipandang sebagai bagian dari dinamika sosial.

Namun, di saat yang sama, embrio keterbukaan mulai tumbuh. KH. Wahid Hasyim membuka ruang pembaruan dengan mendirikan madrasah dan memperluas cakrawala pendidikan, termasuk bagi perempuan. Perjalanan ini, menurutnya, adalah proses bertahap: identitas dikokohkan, lalu dibuka secara selektif dan bertanggung jawab.

Ia menggambarkan perkembangan NU seperti kuncup bunga yang dijaga agar tetap utuh hingga akhirnya mekar. Dari ukhuwah islamiyah yang kokoh pada generasi Hadratussyaikh, berkembang menjadi ukhuwah wathaniyah pada era KH. Wahid Hasyim, dan mencapai puncaknya dalam ukhuwah basyariyah yang diperluas oleh Gus Dur.

“NU hari ini mampu menghadirkan wayang, musik, pameran buku, dan berbagai ekspresi kebudayaan modern tanpa kehilangan jati dirinya sebagai komunitas santri. Penguasaan kitab kuning, tradisi pesantren, dan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah tetap menjadi fondasi,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa peringatan satu abad yang dikemas melalui festival budaya dan literasi bukanlah bentuk hura-hura, melainkan refleksi konkret dari perjalanan peradaban NU: dari komunitas kecil yang tertutup demi menjaga identitas, menjadi organisasi besar yang terbuka dan mampu berdialog dengan berbagai kebudayaan tanpa tercerabut dari akar tradisinya.

Menutup sambutannya, KH. Jadul Maula mengajak seluruh hadirin mensyukuri terselenggaranya rangkaian acara tersebut sebagai bagian dari amal jariah kolektif. Ia berharap seluruh ikhtiar yang dilakukan menjadi catatan kebaikan di sisi Allah SWT.

Acara kemudian ditutup dengan pembacaan Surah Al-‘Asr secara bersama-sama sebagai simbol komitmen untuk terus menjaga iman, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran di abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *