Dr. KH. Hilmy Muhammad Tekankan Konsolidasi, Mabadi Khaira Ummah, dan Integritas Kader NU DIY

Nanhnutv.com Yogyakarta – Anggota DPD RI Dapil DIY sekaligus Katib PBNU, Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A., menyampaikan refleksi kebangsaan dan keorganisasian dalam rangka peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama versi Miladiyah (103 tahun Hijriah) di Yogyakarta. Di hadapan jajaran masyayikh, Rais Syuriah, Tanfidziyah, pengurus wilayah dan cabang, serta pimpinan banom, beliau menegaskan pentingnya konsolidasi, integritas, dan istiqamah sebagai fondasi memasuki abad kedua NU.

Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh jajaran untuk mensyukuri kondisi NU di DIY yang relatif kondusif dan solid. Ia menilai dinamika organisasi di tingkat wilayah maupun cabang di Yogyakarta berjalan dengan baik, tanpa diwarnai praktik-praktik transaksional yang merusak marwah jam’iyah.

“Kita patut bersyukur. Di tengah berbagai dinamika yang terjadi di banyak daerah, DIY mampu menjaga konsolidasi dengan baik. Ini bukan perkara jumlah, tetapi kemampuan mengelola dan mengorkestrasi potensi yang ada,” tegasnya.

Mengutip firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 114, beliau mengingatkan bahwa pertemuan dan konsolidasi tidak memiliki nilai jika tidak diarahkan pada amar ma’ruf, ishlah, dan kemaslahatan bersama. Karena itu, forum-forum organisasi harus dimanfaatkan bukan sekadar untuk rutinitas seremonial, tetapi untuk membangun sinergi dan pembagian peran secara strategis.

Dr. KH. Hilmy juga menekankan pentingnya implementasi Mabadi Khaira Ummah sebagai prinsip dasar gerakan NU:

  1. Shidq (jujur)
  2. Amanah (dapat dipercaya)
  3. Adil (proporsional)
  4. Ta’awun (kerja sama dan kolaborasi)
  5. Istiqamah (konsisten dan berkelanjutan)

Menurutnya, prinsip tersebut bukan sekadar slogan, melainkan fondasi etika organisasi yang harus dijalankan secara konsisten. Ia mengingatkan agar tidak terjadi gesekan internal antarlembaga dan banom, serta mendorong penguatan ta’awun, baik secara internal maupun eksternal dengan pemerintah, aparat, pengusaha, dan ormas lain.

“Kita tidak mungkin membangun negeri ini sendirian. Kolaborasi adalah keniscayaan. Namun kolaborasi itu harus dilandasi integritas,” ujarnya.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa NU memerlukan kader-kader yang tidak hanya memiliki integritas, tetapi juga kapasitas. Kepercayaan publik harus ditopang oleh kompetensi dan kinerja nyata. Integritas tanpa kapasitas akan melemahkan organisasi, sementara kapasitas tanpa integritas justru berbahaya.

Dalam konteks regenerasi kepemimpinan, beliau menegaskan bahwa pergantian adalah sunnatullah organisasi. Yang terpenting adalah prosesnya tetap bermartabat, tanpa terjebak politik uang atau kepentingan pragmatis. Ia secara tegas mengingatkan agar kekuatan finansial tidak menjadi faktor pemecah belah jam’iyah.

“Jika urusannya uang, kita pasti kalah. Karena itu jangan jadikan uang sebagai panglima. Yang harus kita jaga adalah marwah, konsolidasi, dan prestasi,” tandasnya.

Menutup refleksinya, Dr. KH. Hilmy Muhammad mengajak seluruh pengurus NU di DIY untuk menjaga soliditas yang telah terbangun, mempersiapkan kader-kader terbaik berdasarkan kinerja dan integritas, serta menjadikan abad kedua NU sebagai momentum penguatan peran strategis di tingkat daerah maupun nasional.

“Meski secara jumlah kita mungkin kecil, tetapi dengan orkestrasi yang baik, integritas yang kuat, dan istiqamah dalam perjuangan, insyaallah NU DIY akan tetap menjadi kekuatan moral dan teladan bagi masyarakat,” pungkasnya. (baba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *