KH Jazilus Sakho’ Bahas Bahaya Riya dalam Kajian Tanbihul Ghafilin

Nahnutv.com Yogyakarta – Wakil Katib Syuriah PWNU DIY, KH. Jazilus Sakho’, menyampaikan kajian kitab kuning dalam program Nahnu TV dengan mengulas kitab klasik Tanbihul Ghafilin karya Abu Lais as-Samarqandi.

Dalam pengantarnya, KH Jazilus menjelaskan bahwa Tanbihul Ghafilin merupakan salah satu kitab akhlak yang populer di kalangan pesantren. Pengarangnya, Abu Lais as-Samarqandi, dikenal sebagai ulama fikih sekaligus sufi yang hidup pada abad ke-4 Hijriah atau sekitar abad ke-10 Masehi, sehingga karya ini tergolong klasik dan lebih awal dibanding karya-karya seperti milik Imam Ghazali maupun Imam Nawawi.

Bab Ikhlas di Awal Kitab

Pada kesempatan tersebut, beliau memulai pembahasan dari bab pertama, yakni Babul Ikhlas. Menurutnya, penempatan bab ikhlas di bagian awal menunjukkan betapa pentingnya fondasi niat dalam setiap amal perbuatan.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa hal yang paling dikhawatirkan menimpa umat adalah syirik kecil (asy-syirk al-ashghar). Ketika para sahabat bertanya apa yang dimaksud dengan syirik kecil, Rasulullah menjawab: riya—yaitu melakukan amal dengan tujuan pamer kepada manusia.

Ancaman bagi Pelaku Riya

KH Jazilus menjelaskan, orang yang beramal karena riya pada hakikatnya ingin mendapatkan pengakuan manusia, bukan ridha Allah SWT. Dalam hadis tersebut digambarkan bahwa pada hari kiamat, orang-orang yang riya akan diperintahkan untuk meminta balasan kepada pihak yang dahulu menjadi tujuan pamernya di dunia.

“Artinya, Allah tidak menerima amal yang tidak dilakukan dengan ikhlas,” tegasnya.

Ia juga menyinggung firman Allah dalam Al-Qur’an tentang orang-orang munafik yang hendak menipu Allah, padahal Allah-lah yang membalas tipuan mereka. Dalam konteks riya, balasan itu berupa gugurnya pahala amal yang dikerjakan tanpa keikhlasan.

Ikhlas sebagai Syarat Diterimanya Amal

Menurut KH Jazilus Sakho’, seorang hamba berhak memperoleh pahala apabila amalnya dilakukan semata-mata karena Allah. Jika amal dilakukan demi selain Allah, maka Allah berlepas diri dari amal tersebut.

Karena itu, pesan utama dari pembahasan Babul Ikhlas dalam Tanbihul Ghafilin adalah peringatan agar umat Islam senantiasa meluruskan niat sebelum beramal. Setiap ibadah, sedekah, dakwah, maupun aktivitas sosial harus dibangun di atas keikhlasan, bukan demi pencitraan atau pengakuan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *