Nahnutv.com Yogyakarta, 14 Oktober 2025 . Kontroversi yang muncul setelah tayangan Xpose Uncensored Trans7 menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo memperlihatkan kesenjangan epistemik yang tajam antara logika media populer dan nilai-nilai tradisi lokal keagamaan.
Tayangan tersebut, yang menampilkan narasi seperti “santrinya ngesot kasih amplop” atau “kiai hidup dari amplop santri”, dianggap melecehkan martabat pesantren karena mengabaikan konteks kultural dan spiritual yang melekat dalam relasi antara kiai, santri, dan wali santri.
Reaksi keras para alumni dan masyarakat pesantren bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan bentuk perlawanan terhadap penyederhanaan makna yang telah mereduksi sistem nilai pesantren menjadi citra materialistis.
Dalam realitas kehidupan pesantren, praktik pemberian amplop bukanlah aktivitas ekonomi yang terjadi antara santri dan kiai, sebagaimana digambarkan dalam tayangan tersebut.
Amplop itu umumnya diberikan oleh orang tua atau wali santri sebagai bentuk rasa syukur karena anak-anak mereka telah dididik dengan ikhlas oleh para kiai. Ia merupakan ekspresi syukrān—ungkapan terima kasih spiritual, bukan transaksi ekonomi.
Bahkan, dalam banyak kasus, nilai amplop tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan pengorbanan para kiai yang mendedikasikan seluruh waktunya, pikirannya, bahkan harta pribadinya demi keberlangsungan pendidikan di pesantren.
Para kiai seperti yang ada di Lirboyo menjalani hidup sederhana, menolak gaji tetap, dan menanggung biaya operasional pesantren dari usaha sendiri atau sumbangan sukarela masyarakat.
Dalam horizon semacam ini, pemberian amplop memiliki makna simbolik, bukan ekonomi: ia adalah penanda cinta, hormat, dan doa timbal balik antara keluarga santri dan guru spiritual anak-anak mereka.
Oleh: Zamzam Afandi (Alumni PP.Lirboyo, Staf Pengajar pada Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

