Nahnutv.com Yogyakarta — Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga ruang strategis pembinaan keluarga. Hal tersebut disampaikan oleh Hj. Eni Kartika Sari dalam kajian Ramadan yang disiarkan melalui Nahnu TV.
Menurutnya, ibu memiliki peran yang sangat krusial dalam kehidupan keluarga, terlebih selama bulan Ramadan. Sejak pagi hingga malam hari, ibu menjadi pusat penggerak aktivitas rumah tangga—mulai dari menyiapkan kebutuhan suami dan anak, menjaga kecukupan gizi, hingga memastikan kesiapan ibadah seluruh anggota keluarga.
“Ibu adalah akuntan keluarga, psikolog, motivator, sekaligus pendidik. Semua peran itu berjalan beriringan, terutama di bulan suci Ramadan,” ungkapnya.
Persiapan Fisik dan Spiritual Keluarga
Eni Kartika Sari menjelaskan bahwa menjelang Ramadan, ibu berperan penting dalam mempersiapkan kondisi fisik dan spiritual keluarga. Persiapan fisik dilakukan dengan menjaga kesehatan keluarga melalui menu bergizi seimbang serta menciptakan lingkungan rumah yang bersih, nyaman, dan kondusif untuk beribadah. Tradisi ziarah kepada keluarga dan para masyayikh juga menjadi bagian dari persiapan spiritual menyambut bulan suci.
Sementara itu, persiapan spiritual terutama ditujukan kepada anak-anak, khususnya balita. Edukasi tentang puasa diberikan secara bertahap dan menyenangkan, disesuaikan dengan usia anak, melalui media edukatif dan pendekatan yang ringan agar anak merasa bahwa puasa adalah ibadah yang menggembirakan.
“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, al-ummu madrasatul ula. Dari ibu, anak-anak belajar makna puasa, rukun-rukunnya, serta nilai-nilai kesabaran dan keikhlasan,” jelasnya.
Ibu dan Tradisi Sahur-Berbuka
Dalam praktik sehari-hari Ramadan, ibu juga berperan besar dalam menyiapkan sahur dan berbuka puasa. Mulai dari perencanaan menu, belanja bahan makanan, memasak, hingga penyajian, semua dilakukan dengan penuh dedikasi. Bahkan bagi ibu yang berkarier, usaha menyiapkan makanan sahur dan berbuka tetap bernilai ibadah, termasuk melalui pemanfaatan teknologi modern.
Ia mengingatkan bahwa menyiapkan hidangan berbuka puasa memiliki keutamaan besar sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa orang yang memberi makan berbuka akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala puasanya.
Selain itu, momen sahur menjadi ujian kesabaran tersendiri bagi ibu. Meski lelah, ibu tetap berupaya membangunkan keluarga dan memastikan sahur terpenuhi, karena di dalam sahur terdapat keberkahan.
Menghidupkan Nuansa Ramadan di Rumah
Lebih jauh, Eni Kartika Sari menegaskan bahwa ibu memiliki peran utama dalam menghidupkan suasana Ramadan di rumah. Melalui keteladanan—bukan sekadar nasihat—ibu mengajarkan anak-anak untuk memperbanyak zikir, tadarus Al-Qur’an, dan bersedekah.
“Satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat. Anak-anak akan meniru apa yang mereka lihat dari ibunya,” tuturnya.
Dengan keteladanan tersebut, diharapkan seluruh anggota keluarga dapat menjadikan Ramadan sebagai sarana pembentukan karakter dan peningkatan ketakwaan, sebagaimana tujuan utama diwajibkannya puasa dalam Islam.
Menutup penyampaiannya, Eni Kartika Sari berharap para ibu mampu mengoptimalkan perannya dalam membina keluarga selama Ramadan sehingga lahir keluarga yang bertakwa dan penuh keberkahan.
“Semoga dengan peran ibu yang luar biasa, keluarga yang kita bina dapat mencapai derajat takwa di akhir Ramadan,” pungkasnya. (baba)

