Nahnutv.com Yogyakarta, — Pengurus Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama (PW Fatayat NU) Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menggelar Kajian Rutin Ramadan sebagai bagian dari ikhtiar penguatan keimanan dan pemahaman keislaman umat selama bulan suci Ramadan.
Kajian yang disiarkan melalui Nahnu TV tersebut disampaikan oleh Rini Dwi Hastuti, S.Pd.T., M.Pd, Wakil Ketua PW Fatayat NU DIY. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum istimewa bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin dalam menjalankan ibadah.
“Ramadan adalah madrasah ruhaniyah. Tempat kita belajar menata hati, menjaga jasad, dan memperkuat ilmu agar ibadah yang kita lakukan benar-benar berkualitas,” ujar Rini.
Ia mengawali kajian dengan mengutip firman Allah Swt. dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta pembeda antara yang hak dan batil. Oleh karena itu, Ramadan juga dikenal sebagai bulan Al-Qur’an.
Dalam kajiannya, Rini menjelaskan secara ringkas syarat wajib puasa, yaitu beragama Islam, baligh, berakal, mampu, dan mukim. Ia juga mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang memudahkan, sehingga orang sakit dan musafir diberi keringanan untuk tidak berpuasa dengan kewajiban menggantinya di hari lain.
Selain itu, ia menguraikan dua rukun puasa, yakni niat dan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Menurutnya, niat menjadi pembeda antara puasa Ramadan dan puasa sunnah lainnya.
Lebih lanjut, Rini menekankan pentingnya menjaga dan menguatkan ibadah wajib, khususnya shalat lima waktu. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak lalai terhadap shalat subuh karena sahur, serta tetap mengutamakan shalat tepat waktu meskipun dalam kondisi sibuk menyiapkan berbuka.
“Jangan sampai shalat kita dikalahkan oleh urusan dunia. Sahur itu sunnah, tetapi shalat subuh adalah wajib,” tegasnya.
Ia juga mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang menjelaskan keutamaan ibadah di bulan Ramadan, bahwa amalan sunnah bernilai seperti amalan wajib di bulan lain, dan amalan wajib dilipatgandakan hingga 70 kali lipat.
Selain ibadah wajib, Rini mengajak umat Islam untuk mengoptimalkan ibadah sunnah seperti shalat tarawih, shalat rawatib, memperbanyak sedekah, serta meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an. Ia mengingatkan agar umat Islam mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat, seperti berlebihan menggunakan media sosial, dan menggantinya dengan membaca Al-Qur’an serta dzikir.
“Ramadan adalah bulan penuh pahala. Sangat disayangkan jika waktu-waktu yang berharga ini terbuang sia-sia,” ujarnya.
Menutup kajian, Rini berharap seluruh umat Islam diberikan kesehatan dan kekuatan oleh Allah Swt. agar dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan sempurna dan penuh keikhlasan.
“Kita hanya bisa berusaha, namun kekuatan sejatinya datang dari Allah. Semoga Ramadan tahun ini benar-benar menjadi Ramadan yang istimewa bagi kita semua,” pungkasnya.

