Nahnutv.com Yogyakarta – Nahnu TV kembali menghadirkan kajian keilmuan Islam melalui pembacaan kitab Munyatul Faqir al-Mutajarrid wa Siratul Munir al-Mutafar, karya ulama sufi Syekh Abdul Qadir Alquuhin. Kajian ini disampaikan oleh Dr. H. Muhajir, yang juga menjabat sebagai Sekretaris PWNU DIY.
Dalam kajian tersebut, Dr. H. Muhajir menjelaskan bahwa kitab Jurumiyah yang selama ini dikenal luas sebagai kitab dasar ilmu nahwu di pesantren, oleh Syekh Abdul Qadir Alquuhin ditafsirkan dengan pendekatan tasawuf. Nahwu tidak hanya dipahami sebagai ilmu tata bahasa Arab, tetapi juga sebagai sarana pembentukan akhlak, kesadaran spiritual, dan integritas diri manusia.
Pembahasan diawali dengan definisi al-kalam. Secara gramatikal, kalam dimaknai sebagai lafaz yang tersusun dan memberi faedah. Namun menurut perspektif tasawuf Syekh Alquuhin, kalam tidak cukup hanya berupa rangkaian kata. Kalam yang sejati adalah kesatuan antara ucapan (qaul) dan perbuatan (fi‘l). Ucapan yang tidak terkonfirmasi dalam amal dinilai tidak memiliki kekuatan makna dan tidak akan membekas di hati pendengar.
“Ungkapan atau nasihat yang tidak diamalkan justru berpotensi dianggap sebagai kebohongan oleh pendengarnya,” terang Dr. Muhajir dalam kajian tersebut. Karena itu, seseorang yang menyampaikan pesan kebaikan dituntut untuk terlebih dahulu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kalam disebut mufid (berfaedah) apabila lahir dari hati yang bersih dan nurani yang jujur. Ungkapan yang berasal dari hati diyakini akan lebih mudah masuk ke dalam hati pendengar. Prinsip ini sejalan dengan ungkapan hikmah bahwa perkataan yang keluar dari hati akan sampai ke hati.
Selain itu, kalam yang berfaedah juga dimaknai sebagai ajakan menuju zikrullah, yakni mengingat Allah secara hakiki dengan menyatukan lisan, hati, ruh, dan kesadaran batin. Dalam konteks ini, ucapan manusia dapat menjadi sarana Allah menampakkan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui lisan para hamba-Nya.
Melalui kajian ini, Dr. H. Muhajir menegaskan bahwa ilmu nahwu dalam perspektif tasawuf mengajarkan keselarasan antara ilmu, ucapan, dan perbuatan. Kesatuan ketiganya menjadi fondasi penting agar setiap perkataan memiliki nilai, daya pengaruh, dan manfaat bagi kehidupan.

