Nahnutv.com Yogyakarta – Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. H. Muhajir, M.Si., mengajak masyarakat untuk membangun komunikasi yang beradab dan menyejukkan dengan meneladani ajaran Rasulullah SAW tentang pentingnya salam sebelum berbicara.
Hal tersebut disampaikan Dr. Muhajir dalam kajian yang disiarkan melalui Nahnu TV. Ia menekankan bahwa banyak persoalan di lingkungan keluarga, masyarakat, hingga tempat kerja bermula dari komunikasi yang tidak disampaikan dengan suasana yang kondusif.
“Sering kali orang merasa jengkel, tersinggung, bahkan sakit hati karena ungkapan yang dianggap menyakiti, padahal bisa jadi itu hanya candaan. Ini menunjukkan pentingnya etika dan suasana dalam berkomunikasi,” ujarnya.
Menurutnya, Rasulullah SAW melalui hadis “Assalamu qoblal kalam” mengajarkan bahwa sebelum menyampaikan pendapat atau berdiskusi, seseorang harus lebih dahulu menghadirkan salam. Namun, salam yang dimaksud tidak hanya sebatas ucapan verbal, melainkan juga makna yang lebih mendalam.
“Assalam berarti kedamaian dan kerelaan. Artinya, sebelum berbicara, kita harus menciptakan suasana damai dan membuka hati untuk menerima lawan bicara,” jelasnya.
Ia menambahkan, komunikasi yang tidak diawali dengan suasana saling menerima kerap menimbulkan kesalahpahaman dan konflik. Padahal, jika komunikasi dilakukan dengan sikap terbuka dan penuh kedamaian, perbedaan pendapat dapat disikapi secara dialogis dan konstruktif.
“Banyak konflik yang terjadi karena tidak adanya salam dalam makna yang sesungguhnya, yaitu suasana yang kondusif dan saling rela,” tambahnya.
Dr. Muhajir menegaskan bahwa mengamalkan hadis tersebut tidak hanya berarti membiasakan mengucapkan salam, tetapi juga menyebarkan nilai kedamaian dan kerelaan dalam setiap interaksi sosial. Hal ini sejalan dengan misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
“Jika komunikasi diawali dengan kedamaian, insyaallah tidak akan melahirkan konflik, ketegangan, maupun perselisihan yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

