KH Jazilus Sakhok: Ramadan Adalah Proses Menahan Diri Menuju Kebersihan Jiwa dan Spiritualitas

Nahnutv.com Yogyakarta – Dosen dan akademisi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, **KH Jazilus Sakhok, M.A., Ph.D., mengingatkan bahwa bulan Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga proses mendalam untuk membersihkan diri secara fisik, mental, dan spiritual.

Hal tersebut ia sampaikan dalam tausiyah kepada sivitas akademika dan sahabat UNU Yogyakarta pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak umat Islam menyambut Ramadan dengan penuh syukur dan kesadaran spiritual.

“Alhamdulillah pada kesempatan ini kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan yang penuh berkah. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan serta berada dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.

Menurutnya, umat Islam di Indonesia umumnya menyambut datangnya Ramadan dengan penuh kegembiraan. Namun, ia mengingatkan agar kegembiraan tersebut tidak berlebihan sehingga tidak menghilangkan makna hakiki dari ibadah puasa.

Ia menjelaskan bahwa kata puasa dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab shaum yang berarti menahan diri. Karena itu, hakikat puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari berbagai perilaku buruk seperti iri, dengki, dan kesombongan.

“Puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan diri, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental dan spiritual,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tahapan spiritual dalam bulan Ramadan yang sering disampaikan para ulama, yakni pembagian tiga fase dalam sepuluh hari Ramadan. Sepuluh hari pertama disebut sebagai fase rahmat (rahmah), sepuluh hari kedua sebagai fase ampunan (maghfirah), dan sepuluh hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka (‘itqun minan nar).

Menurutnya, pada sepuluh hari pertama Ramadan manusia dilatih menahan diri secara fisik, khususnya dengan mengatur pola makan melalui sahur dan berbuka. Pola ini secara tidak langsung juga membawa manfaat kesehatan bagi tubuh.

Ia bahkan mengutip hadis Nabi yang menyatakan “Shumu tashihhu” yang berarti “berpuasalah, maka kalian akan sehat.”

“Puasa sebenarnya adalah rahmat dari Allah karena mengatur ulang pola hidup kita, termasuk pola makan dan kesehatan tubuh,” ungkapnya.

Setelah tubuh menjadi lebih sehat pada fase pertama, umat Islam kemudian memasuki fase kedua, yakni fase pembersihan jiwa. Pada fase ini, seseorang dituntut untuk menahan diri dari sifat-sifat buruk seperti iri, dengki, dan kesombongan.

“Jika tubuh sudah sehat dan jiwa mulai bersih dari sifat-sifat tercela, maka seseorang akan lebih mudah mendapatkan ampunan dari Allah,” jelasnya.

Selanjutnya pada sepuluh hari terakhir Ramadan, seseorang memasuki fase spiritual yang lebih dalam. Pada tahap ini, seorang hamba didorong untuk meningkatkan hubungan batin dengan Allah SWT.

Menurutnya, pada fase inilah umat Islam berpeluang meraih kemuliaan Lailatul Qadar, malam yang penuh keberkahan yang menjadi puncak spiritualitas dalam Ramadan.

Ia juga mengutip hadis qudsi yang menyatakan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat istimewa karena balasannya langsung dari Allah.

“Puasa itu unik karena sifatnya sangat personal. Hanya Allah dan hambanya yang benar-benar mengetahui kualitas puasa tersebut,” ujarnya.

KH Jazilus Sakhok menegaskan bahwa ketika seseorang berhasil melalui tiga tahapan tersebut—menyehatkan tubuh, membersihkan jiwa, dan meningkatkan spiritualitas—maka ia akan mencapai kesucian sebagaimana makna Idul Fitri, yaitu kembali kepada fitrah.

“Puasa adalah proses menempa diri agar kita mampu menahan diri secara fisik, membersihkan jiwa dari sifat buruk, dan akhirnya mencapai kedekatan spiritual dengan Allah. Orang yang mencapai tahapan ini layak kembali kepada kesucian,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *