Nahnutv.com Yogyakarta – Istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, kembali melanjutkan tradisi Sahur Keliling yang telah ia jalankan sejak tahun 2000. Pada Ramadan 1447 H ini, Sinta menggelar sahur bersama di Gereja Katolik Paroki Kristus Raja, Baciro, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Senin (2/3/2026).
Di usia 77 tahun, Sinta tetap konsisten menggerakkan kegiatan tahunan tersebut bersama Yayasan Puan Amal Hayati, dengan melibatkan berbagai komunitas, lembaga, serta pemerintah daerah di setiap titik pelaksanaan.
“Karena saya tahu, masyarakat Indonesia itu majemuk, beragam. Saya tidak bisa berjalan sendiri,” ujar Sinta dalam tausiyahnya.
Bekerja sama dengan Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, kegiatan ini mengundang kaum dhuafa, penyandang disabilitas, kelompok marjinal, pengemudi ojek online, pengangkut sampah, serta warga lintas iman. Sekitar 400 warga hadir dan mengikuti sahur bersama di kompleks gereja tersebut.
Ibu Sinta menegaskan, sejak awal Sahur Keliling dirancang untuk menyapa kelompok-kelompok akar rumput. Ia kerap memilih lokasi sesuai dengan komunitas yang diundang. “Kalau bersama mbok-mbok bakul, saya sahur di pasar. Kalau bersama anak jalanan dan pengepul sampah, saya sahur di pinggir jalan,” ungkapnya.
Pada Sahur Keliling 2026 yang mengusung tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, Sinta kembali menekankan pentingnya merawat keberagaman dengan sikap saling menghormati, menghargai, dan bergotong royong.
“Ada satu yang boleh diperebutkan, yaitu kursi. Kursi dewan boleh diperebutkan, tapi dengan syarat tidak digunakan untuk memecah-belah bangsa dan negara,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan kembali semangat persatuan nasional. “Meski berbeda suku, budaya, dan bahasa, pada hakikatnya kita satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,” imbuhnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. Ia mengaku terharu karena untuk pertama kalinya mengikuti sahur bersama di gereja.
“Saya sangat terenyuh. Ini pertama kali dalam hidup saya sahur bersama di gereja. Mudah-mudahan ini semakin meningkatkan toleransi beragama di antara kita semua,” ujarnya.
Salah satu warga yang hadir, Basyirudin Suhartono, juga mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, sahur lintas iman ini menjadi simbol kuat nilai toleransi dan persaudaraan.
Dalam kesempatan itu, PWNU DIY turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan harmoni dan kerukunan antarumat beragama. PWNU DIY diwakili oleh Wakil Ketua, KH Sony Amir Solikhudin dan Kiai Iswantoro.
Kehadiran berbagai elemen lintas iman dalam Sahur Keliling ini kembali menegaskan pesan yang konsisten dibawa Sinta Nuriyah: bahwa puasa bukan hanya ritual spiritual, melainkan juga momentum merawat kemanusiaan dan kebangsaan.

