Nahnutv.com Yogyakarta – Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah personal, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk memperbaiki hubungan sosial antar sesama. Hal ini disampaikan oleh Rr Rhetno Arobiatul Jauzak, perwakilan Fatayat NU Bidang Kesehatan, dalam program Kajian Tematik Ramadan yang disiarkan melalui Nahnu TV.
Dalam kajian bertema “Menjadi Pendengar yang Hidup untuk Sesama”, Rr Rhetno menekankan bahwa Ramadan sejatinya mengajarkan umat Islam untuk menahan ego, tidak hanya dalam bentuk menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan keinginan untuk selalu ingin didengar dan dimengerti.
“Di era yang penuh kebisingan ini, banyak orang ingin berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar mau mendengarkan. Padahal, kegagalan dalam mendengar dapat merusak relasi sosial, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun dalam dunia pendidikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Allah SWT sendiri memperkenalkan diri-Nya sebagai As-Sami’, Dzat Yang Maha Mendengar. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang mau mendengar dengan baik dan kemudian mengikuti yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Nilai inilah yang seharusnya dihidupkan dalam komunikasi sehari-hari, terlebih di bulan Ramadan.
Menurutnya, kondisi fisik saat berpuasa seperti kelelahan, rasa lapar, dan haus sering kali memicu emosi dan ketidaksabaran. Jika tidak dikelola dengan baik, hal tersebut dapat berdampak pada komunikasi yang tidak sehat dan bahkan memutus tali silaturahmi. Padahal, menjaga silaturahmi memiliki keutamaan besar, di antaranya memperpanjang usia dan melapangkan keberkahan hidup.
Rr Rhetno juga mengkritisi kebiasaan menyela pembicaraan, merasa paling berpengalaman, serta kecenderungan memberi nasihat secara tergesa-gesa, terutama kepada seseorang yang sedang berada pada kondisi emosional terendah. Berdasarkan penelitian psikologis, nasihat justru sulit diterima oleh otak ketika seseorang sedang sedih atau tertekan.
“Yang paling dibutuhkan pada kondisi itu bukan ceramah panjang, melainkan kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan,” tegasnya.
Ia mencontohkan teladan Rasulullah SAW yang ketika mendampingi sahabatnya dalam kesedihan, tidak langsung memberikan banyak dalil, melainkan menghadapkan tubuhnya, mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu memvalidasi perasaan yang dirasakan sahabat tersebut.
Dalam kajian tersebut juga diperkenalkan konsep secret listening atau mendengar secara mendalam, yakni hadir untuk membersamai, bukan untuk menggurui atau merasa paling benar. Mendengarkan dengan tulus, menurut penelitian, terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan menguatkan jiwa seseorang.
Sebagai penutup, Rr Rhetno menggarisbawahi tiga pilar komunikasi bermakna, yaitu niat karena Allah, kehadiran penuh tanpa distraksi, dan validasi terhadap perasaan lawan bicara. Ia mengajak seluruh pemirsa untuk merefleksikan kembali cara berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Tidak semua orang membutuhkan nasihat. Sebagian hanya ingin didengar. Dengan mendengarkan secara tulus, kita telah memberikan kasih sayang dan makna hidup bagi sesama,” pungkasnya.

